"Saat membuat motif, saya mempelajari topografi Kendal, seperti undakan yang menyerupai perbukitan kecil. Pola ini kami jadikan highlight, karena mencerminkan keunikan alam Kendal, lalu ada juga kerajinan keris khas Kendal yang unik,” ungkap dia.

Batik ini terdiri dari enam motif, di antaranya Bahurekso yang terinspirasi dari Tumenggung Bahurekso, bupati pertama Kendal yang berjuang membentuk kabupaten satu ini sehingga menjadi seperti sekarang.
Adapula motif Agra Samodra yang menampilkan keindahan alam Kendal dari pegunungan hingga lautan, motif Akara Kundika yang menampilkan burunh kendil dan burung hong dengan motif flora eksotis.
Selain itu, motif Kendalasari yang terinspirasi dari kisah Sunan Katong yang terpesona dengan keindahan Kendal, serta Bhumi Kendalapura Sogan yang menggambarkan era Kerajaan Majapahit dengan motif keris dan kendil yang disusun dalam pola melingkar.
Dirancang dengan “5 jahitan baju,” batik ini melambangkan kebanggaan dan identitas masyarakat Kendal yang melekat kuat. Baju batik khas ini telah menjadi milik masyarakat Kendal sebagai simbol budaya yang tak ternilai.
Karenanya, siapapun Bupati yang menjabat setelah Dico M. Ganindito, diharapkan tetap menjaga dan merawat aset budaya ini dengan sebaik-baiknya, sebagai penghargaan bagi warga Kendal dan pelestarian warisan daerah.
"Batik Kendal diharapkan dapat menjadi ikon budaya baru yang tidak hanya dikenal luas di Indonesia, tetapi juga di kancah internasional sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia yang kaya akan keberagaman," kata dia.