Sementara itu, judul disertasi Bahlil adalah “Kebijakan, Kelembagaan, dan tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia”. Disertasi ini ia tulis untuk memperoleh gelar Doktor dari Program Studi Kajian Stratejik Global, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI.
3. Sentimen publik
Perbandingan gelar Doktor AHY dan Bahlil ini bermula ketika akun @rayestu mempertanyakan mengapa gelar AHY tidak dipermasalahkan layaknya Bahlil.
“AHY juga baru0baru ini jadi doktor dari Unair, kok gak ada yang mempertanyakan? Ganteng privilege is real emang,” tulisnya.
Dari situ, rupanya justru banyak warganet yang membela AHY. Sebab, jika dilihat dari latar pendidikan, AHY memang cukup dikenal kepintarannya.
“Bro, AHY S2-nya di Harvard University, dari awal kelasnya emang beda. Gak ada urusan sama ganteng. Masuk Unair sebenarnya turun kelas,” tulis sebuah akun.
“AHY sih gue udah denger dari lama kuliah, Bahlil kaya sulap,” tulis yang lainnya.
“Bro ini tidak tahu kah AHY S2 nya di mana? Apakah pernah baca papernya AHY? Saya jg ga suka sama orang" di atas, tapi diusahakan jangan absurd gitu standardmu wkwk,” komentar warganet lain tak mau kalah.
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri
Baca Juga: Ucapkan Selamat ke Prabowo-Gibran, AHY Ungkit Kinerja Era Jokowi-Maruf, Apa Katanya?