Suara.com - 'Uang tidak mengenal saudara'. Idiom ini cukup populer di masyarakat. Maksud idiom ini bawah harta bisa menggelapkan mata seseorang tak peduli siapa yang harus dihadapi.
Hal ini juga yang dialami oleh nenek 77 tahun bernama Kannut asal Sumatera Selatan (Sumsel). Perempuan yang menggunakan kursi roda ini harus berhadapan dengan masalah hukum terkait harta warisan.
Kannut dilaporkan ke polisi atas dugaan pemalsuan dokumen tanah warisan. Mirisnya lagi, orang yang melaporkan Kannut ke polisi ialah anak kandungnya sendiri.
Warga Keluruhan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-alang Lebar, Kota Palembang ini dilaporkan ke polisi oleh 4 orang anak kandungnya.
Dengan kondisi sakit dan hanya bisa duduk di kursi roda, Kannut mendatangi Polda Sumsel pada Kamis 27 Juni 2024 untuk diperiksa oleh penyidik.
Salah satu anak Kannut, Ambo Tang (57) masih berpikir waras. Ia mendampingi sang ibu saat diperiksa oleh polisi. Kannut ditemani putra sulungnya itu dan tim kuasa hukum dari LBH Bima Sakti.
Ambon Tang mengaku tak habis pikir dengan empat adiknya yang tega melaporkan sang ibu ke pihak kepolisian. Apalagi kata Ambo Tang, ayah mereka baru meninggal 6 bulan lalu.
Menurut Ambo Tang, setelah sang ayah meninggal dunia, harta benda dan warisan jadi sumber konflik di antara saudara-saudaranya.
"Bahkan sampai sekarang masih berpekara dan bukan tidak dibagikan tapi tertunda," ucap Ambo Tang seperti dikutip dari unggahan akun Instagram @interaktive_
Sementara itu, menurut kuasa hukum Kannut, Novel, kliennya itu dilaporkan ke polisi oleh empat anaknya karena dianggap menjual tanah tanpa persetujuan.