"Pada masa itu bisa dicek di media online, siapa pimpinan yang ada di situ, nggak ada. Kosong," kata Anies.
"Saya sendiri keliling waktu itu. Saya lihat ibu ayahnya, saya ngomong di megaphone saya ngomong 'saudara-saudara semua kita lihat korban di sini ada satu yang meninggal, jangan ada yang tambah, jangan bikin apapun yang menambah korban. Antarkan jenazah sampai pemakaman sesudah itu pulang, jangan ada yang balas dendam'," kisah Anies.
Dari pengalaman tersebut, Anies lantas membuat peraturan di Jakarta soal penanangan korban konflik politik.
"Kebetulan di Jakarta itu kita bikin atuaran bahwa konflik politik yang membuat orang cedera itu biaya pengobatan ditanggung Pemprov DKI. Kenapa? Ya karena kita Ibukota," kata Anies.
Melanjutkan ceritanya tentang Pilpres tahun ini, Anies mengaku tak ingin memperpanjang masalah sengketa dan memperpanas suasana agar kejadian lima tahun lalu tak terulang.
"Lima tahun kemudian giliran saya yang jadi capres. Ketemu hasil pemilu, ketemu penyimpangan-penyimpangan itu. Apa yang ada benak ini? Haruskah saya berpidato lalu membuat semua membara, lalu berujung konflik lalu crash, mati? Haruskah saya mengambil sikap yang penuh dengan 'mari bergerak, mari lawan'. Apa yang terjadi? Terus sesudah itu ke mana? Yang pernah merasakan tembakan itu nggak ada petinggi-petinggi. Rakyat semua," ungkap Anies blak-blakan.
Dari cerita pengalamannya lima tahun lalu tersebut, Anies lantas membandingkannya dengan Pilpres kali ini yang dinilai jauh lebih kalem bahkan nihil korban konflik.
"Di situ kemudian saya ditakdirkan pindah posisi dari dulu saya menyaksikan di lapangan, lima tahun kemudian saya di posisikan capres. Haruskah peristiwa seperti itu itu terulang lagi? Jangan, kali ini harus nol yang meninggal," pungkas Anies.
Baca Juga: Anies Baswedan Belajar dari Kekalahan di MK: Ditolak Tapi Terasa Seperti Menang