Pengalamannya di bidang jurnalis sempat menyita perhatian negeri kala Meutya dan juru kameranya, Budyianto, menjalani liputan ke daerah konflik di Irak.
Dalam tugasnya itu, keduanya diculik dan disandera oleh kelompok bersenjata di Irak pada 18 Februari 2005 sebelum hilang kontak pada 15 Februari 2005. Keduanya lantas akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005.
Tragedi itu diabadikan Meutya Hafid dalam bukunya berjudul 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak.
Wanita lulusan S1 New Sotuh Wales University dan S2 Universitas Indonesia ini juga meraih beragam penghargaan di dunia jurnalistik. Tahun 2007, Meutya Hafid memenangkan Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill dari pemerintah Australia yang diserahkan langsung oleh Dubes Australia Bill Farmer.
Kemudian di tahun 2008, Meutya Hafid juga meraih penghargaan alumni Australia 2008 untuk kategori Jurnalisme dan Media.
Di tahun 2012, Meutya Hafid terpilih menjadi sati di antara lima Tokoh Pers Inspiratif Indonesia versi Mizan. Meutya bahkan menjadi satu-satunya tokoh perempuan dari daftar tersebut.
Jejak Politik Meutya Hafid
Meutya Hafid kemudian meninggalkan karier jurnalistiknya. Pada tahun 2010, ia maju sebagai calon Wali Kota Binjai berpasangan dengan H Dhani Setiawan Isma. Meutya maju diusung oleh Partai Golkar, Dmeokrat, Hanura, PAN, Patriot, P3I, PDS, dan 16 Partai non-fraksi DPRD Binjai. Namun pasangan ini tak terpilih.
Di bulan Agustus 2010, Meutya Hafid menjadi Anggota DPR antar waktu dari Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia. Ia duduk di Komisi XI bidang Keuangan dan Perbankan selama 17 bulan.
Baca Juga: Profil dan Agama Isran Noor, Gubernur Kaltim Pamit dari Partai Nasdem, Punya Kekayaan Rp 20 M
Setalah itu Meutya Hafid dipindah ke Komisi I bidang Pertahanan Luar Negeri, Komunikasi dan Informasi hingga tahun 2014.