“Saya pas bebas didandani seolah tidak terjadi apa-apa, Pokoknya saya rapi seperti mau ke kantor. Padahal sudah lupa berapa lama saya di sana, sampai bertanya ‘tahun berapa sekarang?” kata Hibat saat bercerita dalam acara seminar Internasional, sekaligus pameran seni instalasi dan fotografi bertajuk “Penyiksaan Yang Tersembunyi: Kondisi Panti-panti Penyandang Disabilitas di Indonesia.”
Setelah dua tahun, kini rantai yang membelenggu kaki dan tangannya sirna. Ia bisa menjalani kehidupan normalnya sehari-hari. Namun, ia masih tetap berjuang dan berharap teman-temannya di panti sosial tersebut suatu hari bisa bebas. Ia berharap teman-temannya bebas dan bergabung di kehidupan masyarakat serta mendapat pengobatan kesehatan mental yang semestinya.
“Saya berharap teman-teman dibebaskan semua dan bisa bergabung lagi dengan masyarakat luas,” pungkas Hibat.