Suara.com - Ramadan 2023 hanya tinggal beberapa minggu lagi. Sebagai puasa wajib, semua umat muslim tidak boleh meninggalkan puasa Ramadan. Namun karena beberapa kondisi, ada umat Islam yang terpaksa tidak berpuasa. Mereka yang tidak puasa Ramadan harus menggantinya dengan puasa qadha.
Doa puasa qadha untuk mengganti hutang puasa Ramadan yang tidak bisa ditunaikan menjadi satu hal yang penting. Tapi mungkin masih ada yang belum begitu mengetahui doa dan tata cara mengqadha puasa. Juga tentang apa saja alasan yang menjadikan muslim boleh meninggalkan puasa Ramadan.
Berikut telah dirangkum doa puasa qadha beserta tata cara serta juga hal-hal yang membuat umat muslim bisa diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadan dan menggantinya dengan mengqadha.
1. Pengertian Puasa Qadha

Puasa qadha adalah puasa pengganti yang dilakukan untuk menggantikan puasa yang seharusnya dilakukan pada bulan suci Ramadan. Puasa qadha adalah wujud keringanan yang Allah SWT berikan kepada hambaNya yang tidak bisa menunaikan puasa Ramadan karena alasan yang sudah diatur atau biasa disebut pula dengan alasan syari.
Puasa qadha sendiri harus dilakukan setelah bulan Ramadan selesai yaitu pada hari-hari biasa yang bukan merupakan hari larangan untuk puasa misalnya hari tasyrik. Qadha puasa bisa dijalani misalnya pada awal bulan Syawal atau awal bulan Dzulhijjah. Sebagai catatan penting bahwa waktu untuk mengqadha puasa adalah setahun yang artinya sebelum Ramadan kembali tiba, hutang puasa harus sudah dilunasi dengan qadha puasa.
2. Alasan Boleh Meninggalkan Puasa Ramadan dan Mengqadha Puasa

Meskipun merupakan puasa wajib, tapi Allah memberikan keringanan sebagai tanda kasih sayangnya pada umat manusia dengan mengizinkan umatNya meninggalkan puasa dan menggantinya dengan puasa di hari lain. Namun, ada aturan khusus yang mengatur tentang alasan yang membuat umat Islam boleh tidak puasa yaitu:
Sakit
Orang sakit yang apabila puasa maka sakitnya tambah parah maka dibolehkan untuk tidak puasa dan tidak berdosa. Tapi jika hanya sakit ringan dan tidak membahayakan serta masih mampu berpuasa maka kewajiban untuk puasa tetap berlaku padanya sehingga jika ia tidak puasa maka akan berdosa.
Baca Juga: 6 Ide Jualan Bulan Puasa, Nggak Cuma Gorengan dan Es Buah yang Bisa Untung Melimpah
Mufasir
Orang yang berpergian jauh untuk tujuan dakwah atau kebaikan juga menerima keringanan dan diperbolehkan tidak puasa. Imam Syafi'i menetapkan batas perjalanan seseorang untuk disebut mufasir adalah sejauh 83 km. Tapi dengan perkembangan zaman, perjalanan sejauh itu bisa ditempuh dalam waktu singkat dengan moda transportasi modern sehingga untuk tetap melakukan puasa tentunya tidak akan terlalu berat.