Heboh Resesi Seks di Korea Selatan dan Jepang, Ogah Punya Anak Gegara Biayanya Mahal

Senin, 28 November 2022 | 16:35 WIB
Heboh Resesi Seks di Korea Selatan dan Jepang, Ogah Punya Anak Gegara Biayanya Mahal
Ilustrasi Pasangan - Penyebab Resesi Seks (Pexels)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Angka kelahiran bayi di Korea Selatan dan Jepang dalam beberapa tahum terakhir dilaporkan rendah. Hal tersebut disebabkan salah satunya akibat resesi seks

Resesi seks diartikan sebagai merosotnya gairah pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah, hingga memiliki anak.

Salah satu warga Korea Selatan, Choi Jung-hee, pekerja kantoran yang baru saja menikah, mengaku enggan memiliki anak.

Alasannya karena membesarkan anak butuh biaya sangat besar.

"Hidupku dan suamiku yang utama," kata Choi, dikutip dari The Guardian.

Ilustrasi pasangan - Resesi Seks (Unplash)
Ilustrasi pasangan - Resesi Seks (Unplash)

Ia sendiri sebenarnya sering mendengar cerita kalau memiliki anak juga sebenarnya bisa berikan kebahagiaan. Tetapi, di sisi lain, menurutnya juga banyak waktunya sendiri yang harus direlakan untuk sang anak.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah di Korea Sekatan bahwa proporsi rumah tangga dengan satu orang telah melampaui 40 persen. Tahun lalu, jumlah pernikahan mencapai titik terendah sepanjang masa, yaitu 193 ribu. 

Bahkan separuh populasi di Korea Selatan juga percaya kalau pernikahan bukanlah suatu keharusan. Terutama perempuan, memprioritaskan kebebasan pribadi dan sengaja mengesampingkan pernikahan sama sekali.

Kondisi serupa tak jauh berbeda juga terjadi Jepang. Di sekitar ibu kota Tokyo bahkan ada satu wilayah yang mayoritas dihuni oleh orang lanjut usia (lansia), yakni Sugamo. Wilayah itu disebut menjadi kiblat bagi anggota populasi tua di Jepang.

Baca Juga: Pengamat Sebut Pinkan Mambo Mengumbar Perilaku Seks Menyimpang: Abnormal

Jumlah orang yang berusia di atas 65 tahun di Jepang terus bertambah, saat ini mencapai lebih dari 28 persen total populasi. Sedangkan angka kelahiran tetap sangat rendah. Pada tahun 2021, jumlah kelahiran mencapai 811.604, terendah sejak pencatatan pertama kali dilakukan pada tahun 1899.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI