Apa Itu Quiet Quitting, Istilah yang Ramai Jadi Perbincangan di Kalangan Pekerja Generasi Z

Jum'at, 04 November 2022 | 07:10 WIB
Apa Itu Quiet Quitting, Istilah yang Ramai Jadi Perbincangan di Kalangan Pekerja Generasi Z
Ilustrasi pekerja freelance (Freepik/marymarkevich)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Quiet quitting ramai diperbincangkan akhir-akhir ini, yang merupakan konsep dimana karyawan memilih bekerja cukup sesuai cakupan tanggung jawab dan tingkatan gaji.

Istilah ini berakar dari kekecewaan karyawan akan minimnya penghargaan perusahaan atas usaha yang telah mereka berikan, terutama di saat pandemi di mana efisiensi pegawai berimbas pada menumpuknya volume kerja di karyawan yang tersisa. 

Selain itu, quiet quitting juga timbul di tengah semakin sadarnya karyawan akan pentingnya menghindari burnout dengan bekerja seimbang.

Ilustrasi Pekerja - lowongan kerja oktober 2022 (Pixabay)
Ilustrasi Pekerja - lowongan kerja oktober 2022 (Pixabay)

“Fenomena quiet quitting menangkap perhatian berbagai perusahaan, yang mencoba menelaah imbas fenomena tersebut pada produktivitas bisnis. Sebetulnya, dengan cara pandang dan pendekatan yang tepat, quiet quitting bisa menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk mengulas kembali sistem dan kebijakan kepegawaian untuk melihat bagaimana perusahaan bisa memperkuat kepuasan kerja karyawan,” kata Arvy Egadipoera, Chief Customer Officer (CCO) Mekari.

Arvy menambahkan bahwa solusi digital juga mempermudah perusahaan dalam menghargai performa kerja, sehingga karyawan termotivasi untuk berkarya. Ia pun membagi tips bagaimana perusahaan bisa menggunakan solusi digital untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan, dengan demikian mencegah quiet quitting.

1. Akar Ketidakpuasan

Langkah pertama yang harus diambil perusahaan adalah menemukan akar dari ketidakpuasan kerja. Bisa jadi, karyawan merasa bahwa kenaikan karir terlampau sulit atau apresiasi perusahaan terhadap performa kerja sangat minim sehingga motivasi mereka terkikis. 

Mengetahui akar dari ketidakpuasan akan memungkinkan perusahaan untuk merancang program yang tepat untuk mengembalikan antusiasme karyawan.

2. Target Transparan

Baca Juga: Mengenal Konsep Quiet Quitting, Budaya Kerja Seperlunya

Key performance indicator (KPI), atau indikator kinerja utama, menjadi garis dasar saat menilai performa karyawan. Sebab itu, perusahaan dan karyawan harus duduk bersama untuk menyelaraskan antara target kerja dengan aspirasi karir. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI