Puan Maharani Negosiasi Politik di Warung Pecel: Cari Tahu Sejarah Nasi Pecel, Benarkah Makanan Wong CIlik?

Senin, 26 September 2022 | 12:02 WIB
Puan Maharani Negosiasi Politik di Warung Pecel: Cari Tahu Sejarah Nasi Pecel, Benarkah Makanan Wong CIlik?
Puan Maharani Negosiasi Politik di Warung Pecel: Cari Tahu Sejarah Nasi Pecel, Benarkah Makanan Wong CIlik? (Dok: Twitter/@puanmaharani_ri)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Pecel Madiun dihidangkan dengan nasi putih hangat, daging ayam, tahu, tempe, rempeyek, lempeng putih atau karak. Cara penyajian bisa menggunakan piring dan bisa menggunakan daun pisang yang dipincuk.

Bagi banyak warga Madiun, makan nasi pecel di atas pincuk memunculkan sensasi sendiri. Aroma khas daun pisang yang layu terkena panas nasi putih menambah sedap masakan yang siap disantap.

Pembuat atau penjual nasi pecel ini terdapat di Kecamatan Combor, Pagotan dan Delopo.

Mengutip Good News From Indonesia, hidangan nasi pecel diawali dengan jamuan untuk seorang pejalan yakni Ki Gede Pamanahan, berupa yakni nasi pecel, daging ayam, dan sayur menir (bayam).

Ketika ditanya hidangan yang disajikan itu apa, Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel”. Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itu, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.

Selain itu pecel juga diprediksi sudah ada sejak abad ke-9. Di beberapa daerah, khususnya Madiun, pecel mempunya ciri khas yakni adanya kembang turi.

Pecel juga tercatat dalam kitab Jawa populer, yakni serat centhini yang menjadi koleksi milik Badan Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta. Serat centhini yang ditulis pada tahun 1800.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI