Desainer Ungkap Keunikan Kain Tradisional Kalimantan: Colofull Tanpa Terlihat Norak

Senin, 05 September 2022 | 15:06 WIB
Desainer Ungkap Keunikan Kain Tradisional Kalimantan: Colofull Tanpa Terlihat Norak
Sejumlah penari bersiap menampilkan tari sanggar Bajalin Jaya saat Festival Budaya Dayak Maanyan Warukin di Desa Warukin, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Sabtu (19/2/2022). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Kalimantan dikenal sebagai pulau terbesar ketiga di dunia. Selain beragam akan kekayaan alam, Kalimantan juga punya keunikan akan produk kain tradisionalnya.

Desainer Firdaus Franklin mengungkapkan kalau setiap kain tradisional Kalimantan selalu menyimpan pesan. Sehingga motif yang dibuat selalu tersirat hal khusus.

"Motif itu bukan sekedar motif. Misalnya bunga kenanga, artinya itu part of daily life masyarakat. Wastra dari Indonesia itu kaya sekali," kata Firdaus dalam konferensi pers secara virtual bersama The Apurva Kempinski Bali, Senin (5/8/2022).

Sejumlah penari bersiap menampilkan tari sanggar Bajalin Jaya saat Festival Budaya Dayak Maanyan Warukin di Desa Warukin, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Sabtu (19/2/2022). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww]
Sejumlah penari bersiap menampilkan tari sanggar Bajalin Jaya saat Festival Budaya Dayak Maanyan Warukin di Desa Warukin, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Sabtu (19/2/2022). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww]

Warna dari kain tradisional Kalimantan memang identik terdiri dari berbagai warna atau colorfull. Meski begitu, menurut Firdaus, tetap indah.

"Colorfull tanpa kelihatan norak, tapi tetap insighfull Bagaimana Kalimantan itu mereka juga sustainable dari bahan alami," imbuhnya.

Menurut Firdaus, sejumlah kain tradisional Kalimantan bahkan ada juga yang dibuat dari kulit kayu. Namun pembuatannya diatur secara khusus agar tidak menimbulkan penembahan pohon berlebihan.

Khusus teknik tenunnya, kain Kalimantan juga dibuat dengan cara unik. Bahkan teknik pewarnaan kain di Kalimantan Selatan, Firdaus mengatakan bahwa caranya mirip dengan shibori di Jepang.

"Saya kebetulan dari selatan, itu betul-betul ketika beliau bikin memang susah dan prosesnya itu, saya menikmati proses dari semua penenun. Tapi kadang praktik itu sekarang mulai terlupakan," ungkapnya.

Ia mengaku, saat ini agak sulit mencari penenun kain Kalimantan dengan hasilnya optimal.

Baca Juga: Imbas BBM Naik: Siap-siap Harga Produk Fashion Bakalan Meroket

Sebagai upaya melestarikan juga membudidayakan kain Kalimantan, Firdaus digandeng oleh The Apurva Kempinski Bali untuk terlibat dalam kampanye Unity in Diversity dengan tema Kalimantan: World of Many Facets by Firdaus Franklin.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI