Ini Cara Menjadi Konsumen Cerdas Saat Belanja Online

Vania Rossa Suara.Com
Selasa, 28 September 2021 | 23:11 WIB
Ini Cara Menjadi Konsumen Cerdas Saat Belanja Online
Ilustrasi belanja online. (Pixabay)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Tren belanja online semakin meningkat di tengah pandemi. Menurut laporan oleh Hootsuite dan We Are Social bertajuk “Digital 2021”, lebih dari 87% pengguna internet di Indonesia membeli beragam produk secara online pada beberapa bulan terakhir di penghujung tahun 2020.
Berdasarkan survey oleh Bank Indonesia (BI), volume transaksi digital banking terus berkembang, yaitu tumbuh 42,47% per tahun, mencapai 553,6 juta transaksi pada Maret 2021.

Menurut Karin Zulkarnaen, Chief Marketing Officer Allianz Life Indonesia, selain praktis dan mudah, belanja online memungkinkan kita untuk melindungi diri dan keluarga di masa pandemi ini karena kita tidak perlu bepergian ke luar rumah untuk mencari kebutuhan.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami betul cara berbelanja online yang benar dan aman. Meningkatnya tren berbelanja online perlu diiringi dengan perilaku konsumen yang lebih cerdas saat membeli barang dan jasa, untuk menghindari berbagai kerugian serta meningkatkan literasi terhadap platform digital.

Di balik kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan, konsumen harus cerdas dalam berbelanja online. Belanja online memang menawarkan proses pembelian barang yang lebih praktis, diskon menarik, hingga pembayaran atau transaksi yang jauh lebih mudah. Tapi, konsumen juga perlu waspada, misalnya dengan tidak mudah percaya pada harga yang terlalu murah.

Untuk menjadi konsumen cerdas, online business expert Michael Sugiharto melalui kanal Youtube Teknobie memberi tips praktis yang dapat menjadi panduan. Ia menyarankan untuk membandingkan harga dengan lapak lainnya, pastikan tidak jauh berbeda.

Selanjutnya, perhatikan perilaku penjual. Jika berniat menipu, biasanya penjual memaksa pembeli untuk segera membayar. Pembeli juga dapat memastikan jejak digital penjual, contohnya dengan pengecekan nomor rekening penjual di situs milik Kominfo, cekrekening.id.

Di tengah kemudahan transaksi online saat ini, pembeli juga berkewajiban mewaspadai ancaman kebocoran data. Pengamat IT sekaligus CEO & Chief Digital Forensic Indonesia, Ruby Alamsyah, menyatakan bahwa kebocoran bisa terjadi akibat pihak peladen atau pengguna.

Selain pihak aplikasi, pengguna perlu mengamankan data dan akunnya. Ruby menjelaskan bahwa pengguna sebaiknya mencari tahu jenis autentifikasi aplikasi yang diunduh, menggunakan kata sandi yang tidak mudah dilacak, serta menghindari pengunduhan aplikasi yang tidak resmi. Selanjutnya, sistem operasi aplikasi gadget dan PC sebaiknya diperbarui secara berkala.

Sebagai perusahaan asuransi, Allianz pun turut mendukung mudahnya transaksi secara online dan digital bagi para nasabahnya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Bain & Company di tahun 2020, pasca pandemi, ada tiga hal yang menjadi faktor utama dalam memilih dan membeli produk asuransi, yaitu harga, akses, serta fleksibilitas untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan daya beli nasabah.

Baca Juga: Menembus Batas Supply Chain Melalui Sinergi

Untuk itu, Allianz menghadirkan OptimAll, portal distribusi asuransi digital yang menyediakan berbagai pilihan produk, salah satunya yaitu Asuransi Kesehatan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI