Suara.com - Pandemi mengubah hidup banyak orang. Dari yang awalnya memiliki pekerjaan, tiba-tiba di-PHK lantaran perusahaan harus melakukan efisiensi. Gaji besar yang dinikmati setiap bulan, tiba-tiba saja terpangkas hingga membuat cash flow jadi berantakan. Situasi ini pun akhirnya memaksa setiap orang untuk berjuang untuk bertahan dari segala kesulitan. Salah satunya dengan berwirausaha. Tapi, mungkinkah melakukan wirausaha kala pandemi?
Wirausaha kala pandemi memang bukan hal yang mudah. Bahkan bagi para pemain lama, mulai dari usaha berskala besar, UMKM, hingga kuliner pinggir jalan, pandemi telah memberi dampak luar biasa. Pandemi membuat mereka harus memikul beban operasional yang berat tanpa didukung pemasukan yang seimbang.
Namun, selalu ada celah di tengah keterpurukan. Tak sedikit orang yang jeli melihat peluang di balik krisis. Salah satunya adalah Annisa R. Amalia, seorang dokter gigi anak yang kini banting setir jualanan donat.
Pandemi Covid-19 membuat jadwal praktiknya sebagai dokter gigi jadi terbatas. Akhirnya, untuk menjaga pemasukan keluarga, ia mengajak ibunya untuk memulai usaha jualan donat frozen.
Berawal dari membuat donat untuk konsumsi sendiri, kemudian meminta orang lain untuk mencoba donat buatannya, perempuan yang kerap disapa Icha ini pun akhirnya memberanikan diri menjual donat frozen buatannya. Dari yang awalnya Icha hanya menjual 160 buah donat yang dikirimkan ke berbagai wilayah di Jakarta, kini ia mampu menjual sekitar 400 donat dalam sehari.
Selain Icha, ada pula duo Obin Ousbourne dan Derry Firmansyah, yang merupakan pengusaha custom handstiching and handwork. Keduanya memutuskan masa pandemi ini sebagai awal untuk memperkenalkan Toekang Ketjos. Melalui tangan-tangan kreatif keduanya, Toekang Ketjos menawarkan kustomisasi item fesyen dengan berbagai teknik jahit dan pola.
Ide yang ditawarkan sebenarnya sederhana saja. mengutip laman Instagram @toekangketjos, mereka menulis, "Seberapa sering kita melihat satu jenis sepatu yang di pakai banyak orang di tempat nongkrong? Males nggak sih kalo punya sepatu kembaran sama orang?
Tenang, nggak usah bete, soalnya itu nggak bakal menyelesaikan masalah. Solusinya adalah cari sepatu yang sudah lama banget dipakai dan punya warna yang sudah nggak oke, bawa ke kami!!!"
Berbeda dengan ketiga pengusaha di atas yang memulai langkah saat pandemi datang, R Fitriandaka Kurnia telah memulai bisnis pembuatan kaki palsu sejak tahun 2007. Meski termasuk pemain lama, Kurnia mengaku pandemi juga sempat menghantam bisnisnya.
"Di bulan Maret sampai April, di awal pandemi, kita masih takut. Pasien kita batasi untuk datang, dan mereka pun takut untuk datang. Di bulan-bulan itu penjualan kamu sangat berdampak," paparnya ketika dikunjungi Suara.com di awal Oktober lalu.
Baca Juga: Begini Cara Kemenpora Dukung Wirausaha Muda Indonesia
Namun, seiring dengan disosialisasikannya protokol kesehatan oleh pemerintah, Kurnia dan seluruh pegawainya pun mulai beradaptasi dengan kondisi pandemi. Perusahaan yang bergerak dalam pembuatan kaki palsu, tangan palsu, dan alat alat bantu gerak tubuh itu pun mulai beraktivitas normal, dengan menerapkan protokol kesehatan.