Metode penularan meliputi:
- Kontak langsung melalui cakaran atau gigitan hewan yang terinfeksi.
- Konsumsi daging hewan liar yang terinfeksi.
- Kontak dengan benda yang terkontaminasi.
- Virus masuk melalui luka terbuka, saluran pernapasan, atau selaput lendir mata, hidung, atau mulut.
- Penularan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi, serta kontak tidak langsung dengan bahan lesi.
Gejala cacar monyet pada manusia mirip dengan gejala cacar, tetapi cenderung lebih ringan. Gejala awal termasuk demam, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, panas dingin, dan kelelahan. Fase erupsi muncul 1-3 hari setelah fase awal, ditandai dengan ruam atau lesi pada kulit yang dimulai dari wajah dan menyebar ke tubuh.
Cacar monyet dapat sembuh sendiri dan pengobatan spesifik belum ada. Diagnosis pasti dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dan pengobatan bersifat meredakan gejala (simptomatis) dan suportif.
Pencegahan cacar monyet meliputi menghindari kontak dengan hewan yang dapat membawa virus, menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material terkontaminasi, membatasi konsumsi daging hewan liar, dan menjaga kebersihan tangan. Penggunaan alat pelindung diri (APD) juga dianjurkan saat merawat pasien.
Meskipun belum terdeteksi di Indonesia, tetap waspada dan melakukan langkah pencegahan adalah penting, terutama karena anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini.
Secara umum, populasi yang lebih muda lebih rentan terhadap cacar monyet. Langkah-langkah pencegahan meliputi menghindari kontak dengan hewan liar atau sakit, menjaga kebersihan tangan, dan menggunakan APD saat merawat pasien.