Meski begitu Dr. Ray juga tidak menampik walau angkanya tidak sebesar IRT, penelitian ini juga menemukan 29 persen ibu pekerja alami mom shaming di tempat kerja dan di lingkungan tempat tinggal sekaligus.
Lebih lanjut, jika mom shaming ini dibiarkan terus menerus dan berlanjut, maka risiko terbesarnya yaitu sebanyak 56 persen ibu alami gangguan kesehatan mental. 65,7 persen ibu juga merasa malu dan bersalah dengan tudingan tersebut.
"Bahkan 64 persen mengakui kata-kata dan tudingan mom shaming ini akhirnya dapat mempengaruhi cara mengasuh anak. Lalu sebanyak 22 persen kompensasi dengan (membandingkan dan berlaku keras) ke perempuan lain," terangnya.
Mirisnya lagi, dari tingginya angka mom shaming yang berdampak pada kesehatan mental ibu dan mempengaruhi pola asuh anak, penelitian ini menemukan hanya 11 persen perempuan yang mendapat atau mencari bantuan konseling. Bahkan hanya 23 persen ibu responden yang mengaku berani melawan dan menghindar dari perlakuan mom shaming.
"Kondisi ini disebabkan kurang optimalnya peran support system, yaitu keluarga, yang harusnya melindungi mereka. Akibatnya selain tidak bisa melawan dan menghindar, malahan ibu yang mengalami mom shaming takluk dengan kritik tidak membangun ini dan mengorbankan pola asuh atau gaya parenting yang bisa saja sudah baik,” pungkas Dr. Ray.