Dibandingkan dengan konsumsi mikroplastik di Indonesia sebesar 15 gram per bulan, perkiraan Amerika Serikat jauh lebih rendah yaitu 2,4 gram. Sebaliknya, Paraguay, adalah negara dengan asupan mikroplastik terendah yakni sebesar 0,85 gram.
"Industrialisasi di negara berkembang, khususnya di Asia Timur dan Selatan, telah menyebabkan peningkatan konsumsi bahan plastik, timbulan sampah, dan serapan mikroplastik oleh manusia," kata rekan penulis studi, Profesor Dr You Fengqi dalam sebuah pernyataan di kutip Medical Channel Asia.
"Sebaliknya, negara-negara industri mengalami tren sebaliknya, didukung oleh sumber daya ekonomi yang lebih besar untuk mengurangi dan menghilangkan sampah plastik," kata rekan penulis studi, Profesor Dr You Fengqi dalam sebuah pernyataan.
Dampak Kesehatan Pada Masyarakat
Perbedaan ini menunjukkan betapa parahnya kontaminasi mikroplastik di Indonesia, sehingga menunjukkan adanya perbedaan besar dalam tingkat paparan.
Temuan ini tidak hanya menyoroti besarnya polusi plastik namun juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mengatasi dampaknya yang luas terhadap kesehatan masyarakat. Mikroplastik, yang tersebar luas di lingkungan kita, menimbulkan ancaman besar bagi ekosistem darat dan perairan.
Ketika partikel-partikel kecil ini menyusup ke dalam rantai makanan, potensi risiko kesehatannya terhadap manusia menjadi semakin memprihatinkan.
Masalah pernapasan, masalah pencernaan, dan bioakumulasi zat beracun merupakan beberapa bahaya kesehatan yang terkait dengan paparan mikroplastik. Berikut daftar risiko kesehatan yang terkait dengan konsumsi mikroplastik:
- Kontaminan Kimia
Mikroplastik dapat menyerap dan membawa bahan kimia beracun seperti pestisida, logam berat, dan poliklorinasi bifenil (PCB), yang kemudian dapat dilepaskan ke dalam tubuh.
Baca Juga: Klinik Surgero Perluas Layanan Unggulan Sunat dan Wasir untuk Masyarakat Tangerang
Banyak plastik mengandung bahan kimia seperti bisphenol A (BPA) dan ftalat, yang dapat mengganggu sistem endokrin dan menyebabkan ketidakseimbangan hormon.