Suara.com - Ikaatan Dokter Indonesia (IDI) siap berkolaborasi dan mendukung Organisasi Kesehatan Dunia untuk memulihkan sektor kesehatan dunia. Hal itu diugnkapkan oleh Ketua Umum PB IDI, dr Adib Khumaidi, SpOT saat menghadiri World Health Assembly ke-75 yang berlangsung di Palais de Nations, Jenewa, Swiss, yang diadakan oleh WHO.
"Mewakili PB IDI, kami menyampaikan dukungan pada WHO dan Kementerian kesehatan RI dalam strategi pemulihan layanan dan sistem Kesehatan secara global," kata Adib dalam keterangannya, Rabu, (25/5/2022).
Ia melanjutkan, sebagai sebagai satu-satunya organisasi profesi kedokteran yang diakui oleh hukum Undang-Undang, IDI siap menjadi mitra strategis pemerintah RI dan dunia dalam kemajuan layanan Kesehatan di Indonesia serta membantu kerjasama dalam menciptakan dunia yang lebih sehat.
"Semua prioritas dan fokus WHO mendatang sejalan dengan arah dan strategi program PB IDI kedepan,” kata dr Adib Khumaidi.

Dalam pembicaraan bilateral meeting juga dibahas tentang penguatan SDM kesehatan termasuk para dokter melalui berbagai pelatihan , penguatan pelayanan primer (primary health care) yang mendukung Universal Health Coverage serta penjajakan kerjasama Internasional para dokter Indonesia dalam rangka transfer of knowledge and technology.
IDI juga menyadari bahwa diperlukan pendekatan yang tepat dalam memberikan pemahaman soal upaya promotif dan preventif melalui para dokter anggota IDI. Selain itu, IDI juga akan memanfaatkan teknologi Kesehatan untuk memberikan edukasi dan memudahkan masyarakat mendapatkan edukasi terkait upaya promotif dan preventif.
Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan kesepakatan ASEAN pada Persidangan World Health Assembly ke-75 (WHA75) di Jenewa pada tanggal 21-23 Mei 2022, yang merupakan hasil pertemuan ASEAN Health Ministerial Meeting (AHMM) ke-15 di Bali pada tanggal 14-15 Mei 2022 lalu.
Adapun kesepakatan tersebut diantaranya kesepakatan ASEAN Universal Verification Mechanism untuk sertifikat Covid-19, perluasan ASEAN Covid-19 Response Fund dan ASEAN Regional Reserve for Medical Supplies, pembentukan dan operasionalisasi ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Disease, optimalisasi analisa big data regional dan platform berbagi data genome sequensing global, implementasi protokol Kesehatan ASEAN, memperkuat akses ke Vaksin, Terapi, dan Diagnostik (VTD) dan pasokan medis penting lainnya serta mengejar pelaksanaan ASEAN Post-2015 Health Development Agenda.
“Indonesia menyampaikan upaya ASEAN untuk siap dan tanggap dalam menghadapi persoalan kesehatan baik di situasi damai maupun kedaruratan Kesehatan. Ini sejalan dengan tema WHA 75: Health for Peace, Peace for Health,” kata Menkes.
Baca Juga: Kasus Cacar Monyet Terus Bertambah, Benarkah Virusnya Sudah Bermutasi?
Dikatakan Menkes, untuk mewujudkan hal tersebut ASEAN berupaya menjalin koordinasi dan kemitraan strategis baik di level regional, internasional maupun aktor global lainnya seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan G-20, dalam rangka membangun Komunitas ASEAN menuju ‘Masyarakat yang sehat, peduli dan berkelanjutan’.