Suara.com - Anda mungkin pernah merasa sesak napas setelah berjalan beberapa langkah. Banyak orang menghubungkan kondisi ini dengan jantung atau paru-paru.
Beberapa orang mungkin juga mengalami sesak napas setelah melakukan aktivitas fisik keras. Anda mungkin mengira hal ini disebabkan oleh jantung yang memompa terlalu keras.
Faktanya, hal ini tidak benar. Sesak napas bisa disebabkan oleh beberapa hal. Tapi, Anda harus memperhatikan aktivitas yang telah memicu sesak napas untuk mencari tahu penyebabnya.
Sesak napas terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup udara untuk dihirup. Dalam hal ini, orang tersebut cenderung bernapas lebih keras dan lebih cepat tetapi tidak mampu menyediakan udara yang cukup di dalam.
Istilah medis untuk sesak napas adalah dispnea. Situasi ini dapat digambarkan dengan baik ketika seorang non-pelari berlari selama beberapa waktu dan kemudian terengah-engah.
![Sesak napas. [Freepik]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/08/22/45388-sesak-napas.jpg)
Tapi, sesak napas menjadi masalah tak biasa bila Anda mengalaminya setelah melakukan pekerjaan fisik ringan, seperti berjalan menaiki tangga atau berjalan normal di permukaan yang rata.
Ada sejumlah alasan medis dan non-medis di balik sesak napas. Seseorang dapat mengalami sesak napas saat berada di ketinggian, saat kualitas udara berada pada tingkat yang berbahaya atau saat suhu terlalu tinggi hingga setelah olahraga berat.
Ada beberapa kondisi medis yang memicu sesak napas pada seseorang. Masalah seperti alergi, asma, masalah jantung, penyakit paru-paru, pneumonia, obesitas, TBC juga menyebabkan dispnea.
Baru-baru ini, virus corona Covid-19 juga dikatakan mempengaruhi kemampuan bernapas pasien. Banyak orang yang memiliki gejala khas virus corona, seperti sakit tenggorokan dan pilek.
Baca Juga: 3 Efek Samping Vaksin COVID-19 Pfizer dari yang Serius hingga Umum Terjadi
Ada sejumlah kondisi medis yang bisa mempengaruhi kapasitas pernapasan seseorang, seperti masalah paru-paru, jantung, ginjal atau otot.