Pentingnya Menjaga Kualitas Udara Bersih untuk Kelangsungan Hidup Generasi Mendatang

Vania Rossa Suara.Com
Rabu, 05 Januari 2022 | 17:25 WIB
Pentingnya Menjaga Kualitas Udara Bersih untuk Kelangsungan Hidup Generasi Mendatang
Ilustrasi kualitas udara bersih. (Pexels)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Anak sebagai generasi penerus membutuhkan lingkungan yang sehat agar tumbuh kembangnya bisa berlangsung optimal. Sayangnya, di beberapa wilayah termasuk di Indonesia, memiliki kualitas udara yang terbilang tidak sehat, bahkan ada yang masuk dalam kategori berbahaya. Hal ini tentu saja bisa menyebabkan masalah kesehatan, terutama pada bayi yang sistem kekebalan tubuhnya masih sangat rentan.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa bayi yang tinggal di daerah dengan udara tercemar memiliki risiko sampai 50 persen meninggal lebih cepat. Bahkan bayi yang belum genap setahun disebut berisiko tidak mencapai usia 1 tahun.

Tak hanya itu saja, penelitian juga memperlihatkan bahwa ibu hamil yang yang terpapar polusi udara juga berisiko mengalami peningkatan risiko bayi mereka lahir terlalu kecil (berat lahir rendah) atau terlalu dini (kelahiran prematur).

Dalam hal ini, dr. Darrell Fernando, Sp.OG dari Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta, juga menegaskan bahwa ibu hamil memang memerlukan paparan udara yang bersih untuk mencegah berbagai risiko yang bisa muncul akibat polusi udara.

“Belakangan ini kita suka bingung saat melihat kondisi udara, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di kota besar. Ini mendung mau hujan atau polusi udara, ya? Paparan polusi udara, dalam jangka panjang ini memang bisa membahayakan, dan Ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap polusi udara,” katanya, mengutip siaran pers yang diterima Suara.com.

Dijelaskan dr. Darrell Fernando, Sp.OG, dampak polusi udara dan kehamilan ini bisa menyebabkan terjadinya peradangan plasenta, gangguan fungsi DNA, gangguan darah dan radikal bebas, gangguan sirkulasi plasenta, gangguan paru pada ibu.

“Jika semua ini terjadi, tentu dampaknya akan banyak, pada janin bisa terjadi persalinan prematuritas, pertumbuhan janin terhambat, berat lahir yang rendah. Untuk para ibu, bisa berisiko alami preeklamsia, hipertensi pada kehamilan, stres, sedangkan pada anak bisa berisiko menyebabkan kecerdasan berkurang, gangguan perilaku, autisme atau hiperaktif. Ini sudah banyak penelitian yang mendukungnya,” katanya.

Mengingat dampak yang bisa ditimbulkan, maka diperlukan berbagai upaya pencegahan untuk tidak memperburuk kualitas udara. Diperlukan kesadaran dan perubahan yang perlu dimulai dari diri sendiri.

Untuk mengetahui kualitas udara baik atau tidak memang tidak cukup dilihat dengan mata saja, karena perlu diukur dengan Indeks Kualitas Udara (AQI). Bisa dideteksi dengan berbagai metode seperti menggunakan aplikasi untuk memeriksa AQI di daerah kita atau gunakan air purifier yang memiliki sensor AQI.

“Masa pandemi kita sudah terbiasa pakai masker, ini juga sangat membantu menyaring polusi udara, kurangi aktivitas di luar rumah, pantau kualitas udara di lingkungan, gunakan ventilasi yang baik, kalau kualitas udara sedang jelek tutup pintu dan jendela, gunakan air purifier daan gunakan tanaman yang bisa menyaring tanaman yang bisa menyaring udara,” jelas dr. Darrell lebih lanjut.

Baca Juga: Coway Clean Air Truck Keliling Jabodetabek Gaungkan Udara Bersih

Atas dasar kepedulian dan keinginan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, di awal tahun 2022 ini, theAsianparent Indonesia bekerja sama dengan ASRI menggagas sebuah kampanye 1 Baby 1 Tree, Selamatkan Rumah Generasi Mendatang.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI