Waspada, Varian Omicron Bisa Picu Gejala yang Pengaruhi Cara Berpikir

Rabu, 29 Desember 2021 | 20:13 WIB
Waspada, Varian Omicron Bisa Picu Gejala yang Pengaruhi Cara Berpikir
Ilustrasi Virus Corona Covid-19. (Pixabay)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Mulanya, tiga gejala umum virus corona Covid-19 berupa batuk, demam, kehilangan indera penciuman dan perasa. Namun, varian Omicron menimbulkan gejala yang cukup berbeda.

Menurut penelitian, salah satu gejala varian Omicron termasuk perubahan dalam cara berpikir. Aplikasi ZOE COVID Study telah memantau varian baru virus corona ini sejak terdeteksi di Inggris.

Setelah mengamati gejala varian Omicron melalui studi ZOE Covid-19, sebanyak 50 persen orang yang positif virus corona Covid-19 mengalami gejala berbeda.

Salah satu gejala varian Omicron yang nampak berbeda dengan varian virus corona lainnya adalah kabut otak. ZOE mengidentifikasi kabut otak ini sebagai gejala umum varian Omicron.

Sebelumnya, kabut otak ini berkaitan dengan gejala Long Covid-19. Sebab, banyak orang melaporkan hal ini setelah berbulan-bulan pulih dari virus corona Covid-19.

Ilustrasi Virus Corona Covid-19. (Pixabay)
Ilustrasi Virus Corona Covid-19. (Pixabay)

Menurut Harvard Medical School, kabut otak merupakan kondisi ketika cara berpikir orang menjadi lamban, kabut dan tidak tajam.

Dr Andrew E. Budson mengatakan virus corona Covid-19 memang bisa memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk otak dan sistem organ lainnya.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan pada paru-paru, jantung, ginjal atau organ lain yang menyertainya dapat mengganggu pikiran Anda dan menyebabkan kabut otak.

Berbeda dengan Long Covid-19, varian Omicron bisa menyebabkan gejala ini sejak awal infeksi. Tapi, Universitas Bangor masih mempelajari hubungan antara Long Covid-19 dan gejala yang memengaruhi otak.

Baca Juga: Prevalensi Gejala Depresi pada Lansia Meningkat Selama Pandemi Virus Corona

"Kondisi ini pastinya sangat mengganggu seseorang beraktivitas, khususnya orang dengan ekonomi sulit. Karena, mereka mungkin akan lebih kesulitan untuk kembali bekerja," kata Andrew dikutip dari Express.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI