Sedangkan alergi umumnya karena faktor genetik. Dokter Frieda menjelaskan, jika bapak dan ibunya memiliki alergi jenis yang sama, maka kemungkinan anak juga memiliki alergi hingga 60-80 persen.
Kalaupun, orangtua tidak terlihat gejala alerginya, tapi kakak kandung si anak pernah alami alergi saat bayi, ada kemungkinan juga bisa terjadi pada adiknya.
"Jika kakak kandung juga mengalami alergi maka kemungkinan alerginya 60 persen. Jadi kita harus lihat pada riwayat atopi di dalam keluarga," ucapnya.
3. Frekuensi terjadinya

Gangguan saluran cerna yang fungsional atau FGID terjadi hanya sementara. Misalnya kolik biasanya terjadi saat bayi berusia 6 sampai 13 minggu. Setelah itu, saluran cernanya sudah lebih baik, sehingga bayi tidak lagi terlalu rentan alami kolik.
Gejala keluhan FGID umumnya membaik setelah sekitar 2-4 minggu. Tapi jika lebih dari itu, kemungkinan anak alami alergi atau ada penyebab lain dari gangguan saluran cerna.
4. Angka kejadian

Menurut dokter Frieda, angka kejadian FGID cukup besar terjadi pada masa awal kehidupan bayi.
"Gumoh seringkali dialami hampir 30 persen bayi di bawah usia 6 bulan. Kemudian kolik atau sakit perut mendadak terjadi pada 20 persen bayi, sembelit karena bayi susah mengejan dan susah mengeluarkan BAb terjadi pada 15 persen bayi. Ada juga bayi alami diare jumlahnya kurang dari 10 persen bayi," paparnya.
Baca Juga: 6 Doa Yang Wajib Dibaca Saat Bayi Baru Lahir Ke Dunia
Sedangkan alergi lebih sedikit. Prevalensi bayi alami alergi protein susu sapi di Indonesia ada sekitar 2 sampai 7,5 persen. Lebih sedikit dibandingkan dengan gangguan saluran cerna fungsional yang bisa mencapai 50 sampai 60 persen.