Alasan Ilmiah Mengapa Trauma Masa Lalu Lebih Mudah Diingat Dibanding Memori Indah

Rabu, 06 Oktober 2021 | 20:13 WIB
Alasan Ilmiah Mengapa Trauma Masa Lalu Lebih Mudah Diingat Dibanding Memori Indah
Ilustrasi. (pexels.com/Liza Summer)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Memori masa lalu dapat menentukan jalan hidup seseorang. Jika ingatan dipenuhi kenangan yang bahagia dan positif, hal ini akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih bahagia, serta memiliki mental yang sehat.

Namun, bagaimana dengan memori beruapa pengalaman traumatis di masa lalu?

Hal ini yang coba diungkap oleh penelitian yang terbit dalam Journal of Abnormal Psychology. Penelitian itu mencoba untuk memahami ingatan dari trauma masa lalu yang cukup mengganggu psikologis seseorang.

“Teori kognitif gangguan stres pasca-trauma, menunjukkan ada ingatan intrusif dari peristiwa traumatis. Sebagian ini disebabkan oleh perubahan spesifik, juga bagaimana orang merasa, berpikir, dan berperilaku selama peristiwa itu,” ungkap peneliti dari University College London, Alessandro Massazza.

“Kami memberikan dukungan untuk hipotesis ini dengan menunjukkan, ada momen-momen spesifik dari peristiwa traumatis, yang kemudian dialami sebagai ingatan yang mengganggu oleh reaksi peritraumatik,” lanjutnya.

Mengutip Psychology Today, peneliti menyebut reaksi peritraumatik adalah gambaran dari pikiran emosi, serta perilaku seseorang yang dimilikinya, ketika pernah merasakan peristiwa traumatis.

Kondisi ini bisa mengakibatkan keparahan, seperti disosiasi, kesusahan, ketakutan, kengerian, imobilitas, dan ketidakberdayaan selama mengalami peristiwa.

Untuk menguji studi ini, para peneliti melakukan survei terhadap 104 orang peserta yang selamat dari gempa bumi Italia Tengah, yang terjadi pada 2016-2017.

Para peneliti coba bertanya kepada para penyintas dan menanyakan tentang peristiwa trauma yang mereka hadapi pasca-bencana.

Baca Juga: Memori Dunia Lama

Selain itu, peneliti juga coba menilai trauma tersebut lewat lima dimensi reaksi peritraumatik. Antara lain kelelahan mental, disosiasi somatoform, kelebihan kognitif, imobilitas, dan kesusahan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI