Awas, Miras Oplosan Bisa Berujung Kematian

Bimo Aria Fundrika Suara.Com
Sabtu, 21 Agustus 2021 | 14:50 WIB
Awas, Miras Oplosan Bisa Berujung Kematian
Ilustrasi miras oplosan(thinkstock)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

“Ada stigma besar di balik hanya mengatakan itu keracunan alkohol. Tidak ada yang mengira bahwa pasien yang mereka temui sebenarnya adalah korban. Orang-orang sudah memiliki prasangka terhadap mereka yang mengonsumsi minuman ilegal, terutama di negara-negara yang ketat secara budaya atau agama," kata Lim.

Misalnya di Indonesia, di mana alkohol tidak diperbolehkan untuk dijual di pasar, sumber keracunan biasanya adalah alkohol yang diramu secara ilegal yang dapat dibeli dari “toko minuman” tanpa izin. Kesadaran yang rendah dan kemungkinan isolasi sosial menghalangi orang untuk mencari perawatan medis.

"Anda juga dapat melihat stigma di lingkungan rumah sakit. Di banyak rumah sakit, jika Anda harus memilih antara pasien yang minum alkohol versus pasien demam, mereka akan lebih memilih untuk merawat pasien demam terlebih dahulu karena yang satunya dinilai sebagai 'pemabuk," kata dia.

Bahkan, angka kematian 24 persen keracunan metanol cukup tinggi. Dibandingkan dengan penyakit lain yang dapat dicegah, tingkat kematian itu akan membuat para praktisi medis khawatir dan akan segera meminta tanggapan darurat.

Namun karena stigma dan prasangka yang tinggi, keracunan" metanol menjadi terabaikan dan sangat sedikit yang memusatkan perhatian padanya.

Dr Hassanian-Moghaddam menambahkan, “pasien juga ragu-ragu atau menolak untuk menyatakan bahwa mereka minum alkohol. Jadi dokter bisa langsung bertanya kepada pasien secara rahasia, dan pasien harus jujur sehingga diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan dan korban jiwa serta efek samping yang parah dapat dihindari.”

Mengingat kurangnya kesadaran dan tantangan diagnostik, pendidikan untuk dokter dan juga masyarakat sangat penting untuk mengurangi kematian dan untuk lebih memahami beban penyakit ini di banyak negara.

“Alkohol banyak macamnya, misalnya di Filipina ada ethanol, methanol, dan isopropyl yang cukup banyak digunakan. Alkohol ini memiliki berbagai jenis tanda dan gejala. Karena itulah MSF berusaha meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan masyarakat ini dan menekankan kepada para klinisi untuk selalu waspada terhadap keracunan metanol,” tambah Dr Lim tentang pentingnya kesadaran untuk menyelamatkan nyawa.

“Perubahan kebijakan, mendatangi ke orang yang tepat, menunjukkan konsekuensi medis dari pengabaian penyakit ini, dan menjelaskan bahwa secara klinis seorang pasien yang mencari perawatan medis karena keracunan alkohol harus dilihat sebagai pasien yang membutuhkan perhatian medis untuk menyelamatkan hidup sangat penting. Jika ada satu pasien, berarti ada banyak di masyarakat yang membutuhkan perawatan penyelamatan jiwa,” kata dr Lim.

Baca Juga: Bubarkan Komunitas Bikers, Petugas Terkejut Temukan Barang Ini

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI