Tak Cuma dari Dermatologi, Membasmi Jerawat juga Perlu dari Sisi Psikologi

Senin, 15 Februari 2021 | 17:38 WIB
Tak Cuma dari Dermatologi, Membasmi Jerawat juga Perlu dari Sisi Psikologi
Ilustrasi jerawat (Shutterstock)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Jerawat merupakan masalah kulit yang dialami banyak orang. Meski sangat umum, dampak jerawat bisa lebih dari sekadar fisik.

Dua peneliti psikologi UC Riverside mengatakan diperlukan pendekatan yang lebih agresif untuk mengobati jerawat, dengan menggabungkan disiplin ilmu psikolgi dan dermatologi.

"Jerawat itu menyebar, secara fisik tidak berbahaya, dan tidak menimbulkan rasa sakit, jadi kita terlalu sering meremehkan dampaknya sebagai gangguan klasik pada masa remaja dan pubertas," kata penulis makalah Misaki Natsuaki, profesor psikologi UCR.

Namun, efek psikologis dari jerawat di kalangan remaja seringkali lebih toxic atau beracun, lapor News Medical Life Sciences.

"Jerawat dapat meninggalkan bekas luka psikologis, terutama selama masa remaja ketika penampilan fisik menjadi lebih menonjol sebagai harga diri, dan psikopatologi internal, seperti depresi, semakin menonjol," kata Natsuaki.

Jerawat di dagu. (Pixabay/Kjerstin Michaela Noomi Sakura Gihle Martinsen Haraldsen)
Jerawat di dagu. (Pixabay/Kjerstin Michaela Noomi Sakura Gihle Martinsen Haraldsen)

Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan langsung antara jerawat dan depresi, kecemasan, dan pikiran untuk bunuh diri.

Remaja dengan jerawat lebih sulit menjalin persahabatan, menemukan kekasih, dan merasa tertinggal di sekolah.

Saat diperlihatkan foto seorang remaja dengan wajah berjerawat, 65% remaja mengatakan bahwa kulit adalah hal pertama yang mereka perhatikan. Banyak orang mengaitkan remaja berjerawat sebagai ciri-ciri kutu buku, stres, dan kesepian.

Penelitian juga telah menunjukkan perempuan mengalami dampak negatif psikologis lebih tinggi daripada laki-laki.

Baca Juga: Arti Deja Vu dari Sisi Psikologis, Benarkah Potongan Kehidupan Sebelumnya?

Rekan dari Natsuaki, Tuppett Yates yang juga profesor psikologi di UCR, mengatakan beban psikologis penderita jerawat setara dengan penyakit serius lainnya, seperti diabetes.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI