Suara.com - Begitu perayaan Tahun Baru yang meriah berakhir, banyak dari kita yang mengalami gangguan emosional yang dikenal dengan istilah "New Year's Blues".
Perasaan yang juga dijuluki sebagai January Blues dan depresi tahun baru ini bisa sangat membebani kesehatan mental. Hal tersebut menyebabkan depresi, rasa cemas dan gugup berlebihan yang biasanya akan dirasakan oleh banyak orang pada awal-awal bulan Januari.
Dilansir Happines, hal ini mungkin terjadi ketika seseorang harus kembali ke rutinitas sehari-hari yang sangat melelahkan, setelah sempat berlibur dan bersenang-senang pada musim liburan akhir tahun.
Selama akhir tahun dan tahun baru, kebanyakan dari kita cenderung berbelanja bahan makanan lebih banyak, hingga sesi pembelian hadiah lebih sering yang mungkin membuat saldo di rekening bank jadi pas-pasan.
Atau, sebagian dari kita melihat kembali resolusi tahun-tahun sebelumnya untuk mengetahui bahwa ternyata begitu banyak yang belum kita capai atau kita merasa sedih dengan kenangan orang-orang yang tidak lagi bersama kita.
Khususnya di tengah pandemi COVID-19, kita semua pernah mengalami kondisi yang sulit dan menantang yang kemungkinan besar akan berlanjut hingga 2021. Hal tersebut mungkin mengintensifkan tahun-tahun sedih baru yang kita rasakan.
Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa "New Year's Blues" adalah hal yang sangat nyata. Kejadian bunuh diri pada hari Tahun Baru, juga dianggap sebagai hari paling mematikan dalam setahun. Selain itu, ada hubungan antara semangat kerja yang rendah pada saat-saat seperti ini dan peningkatan jumlah perselingkuhan. Faktanya, 65 persen hubungan berakhir pada bulan Januari.

Meski banyak yang menganggap Januari sebagai bulan harapan, tak sedikit yang merasa jika bulan pertama dalam setahun ini mengacu pada hari yang paling menyedihkan.
Meski begitu, ada cara baik dalam melawan dan mengindari "New Year's Blues". Berikut tujuh tips tentang bagaimana mengatasinya.
Baca Juga: Sambut Malam Tahun Baru, Google Rayakan Lewat Doodle Menggemaskan
1. Lakukan perjalanan