Studi: Covid-19 Gejala Ringan dan OTG Punya Antibodi Hingga 4 Bulan

Minggu, 27 Desember 2020 | 07:40 WIB
Studi: Covid-19 Gejala Ringan dan OTG Punya Antibodi Hingga 4 Bulan
Ilustrasi Covid-19.(Pixabay/fernandozhiminaicela)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Sebuah studi menunjukkan bahwa pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG) masih memiliki kekebalan protektif hingga empat bulan. Hal ini dinyatakan pada penelitan yang terbit pada Science Immunology.

Melansir dari Medicalxpress, studi ini menganalisis respons antibodi dan sel T pada 136 petugas kesehatan London dengan gejala ringan dan OTG atau asimptomatik sejak Maret 2020.

Studi ini disusun oleh Universitas Queen Mary, Imperial College London, dan University College London. Mereka menemukan bahwa 89 persen petugas kesehatan yang dianalisis memiliki antibodi hingga 16-18 minggu atau kurang lebih 4 bulan setelah infeksi.

Para peneliti menemukan sebagian besar peserta juga memiliki sel T yang mampu mengenali beberapa bagian berbeda dari virus.

"Studi kami tentang infeksi SARS-CoV-2 pada petugas perawatan kesehatan dari rumah sakit London mengungkapkan bahwa empat bulan setelah infeksi, sekitar 90 persen individu memiliki antibodi yang memblokir virus," ujar Joseph Gibbons, Asisten Riset Postdoctoral di Queen Mary.

Baca Juga: Usai Perayaan Natal, Kasus Harian Covid-19 Kaltim Melonjak Jadi 288 Kasus

"Bahkan pada 66 persen petugas layanan kesehatan memiliki tingkat antibodi pelindung tinggi dan respons antibodi yang kuat dilengkapi dengan sel T yang bereaksi terhadap virus," imbuhnya.

Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@cottonbro)
Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@cottonbro)

Dokter Corinna Pade, Ilmuwan Riset Pascadoktoral di Queen Mary mengatakan bahwa studi mereka pada kasus asimtomatik dan gejala ringan memberikan wawasan positif tentang daya tahan kekebalan terhadap SARS-CoV-2 cukup penting.

"Ini adalah penemuan penting karena gejala Covid-19 ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali sangat umum di masyarakat," ujar dokter Pade. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI