Salah satu contohnya, menurut psikolog Audrey Ervin, kenangan masa kecil, perasaan saat nilai seorang anak tidak pernah cukup baik bagi orangtuanya atau saudara lebih unggul dari anak tersebut. Hal ini dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama.
"Orang sering menginternalisasi ide-ide ini, bahwa untuk dicintai atau disayangi, 'aku perlu meraihnya'," jelas Ervin.
Hal lainnya, seperti lingkungan atau diskriminasi juga dapat berperan besar dalam memicu perasaan sindrom penipu.