Harapan Baru, Rusia Daftarkan Vaksin Covid-19 Kedua

Bimo Aria Fundrika Suara.Com
Kamis, 15 Oktober 2020 | 15:07 WIB
Harapan Baru, Rusia Daftarkan Vaksin Covid-19 Kedua
Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Harapan baru untuk menghentikan pandemi virus corona atau Covid-19 datang dari Rusia.

Dikutip dari ANTARAM Kamis (15/10/2020), Presiden Vladimir Putin mengumumkan bahwa bahwa pusat riset Vector, yang bermarkas di Novosibirsk, mendaftarkan vaksin COVID-19 kedua buatan Rusia.

"Pusat riset Vector Novosibirsk mendaftarkan vaksin COVID-19 kedua buatan Rusia, EpiVacCorona, hari ini," kata Putin, menurut salinan Kremlin.

Sebanyak 100 relawan disebut terlibat dalam uji klinis vaksin tersebut. Hal itu seperti diungkapkan oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Tatyana Golikova.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]
Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Tatyana menambahkan bahwa vaksin tersebut memilik tingkat karakteristik keamanan dan keampuhan imunologis yang tinggi.

Sebelumnya pada awal Agustus, Rusia mendaftarkan vaksin COVID-19 pertama di dunia, Sputnik V, yang dinamai dari satelit ruang angkasa yang diluncurkan oleh Moskow pada 1957.

Vaksin tersebut dikembangkan oleh Institut Penelitian Sains Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya, sebuah lembaga medis yang berlokasi di dekat Moskow.

Meski demikian, prosesnya yang sangat cepat membuat beberapa pihak meragukan dan mengkritisi vaksin buatan rusia itu.

Namun, hasil awal dari uji coba vaksin virus corona potensial dari Rusia tidak menunjukkan efek samping negatif yang besar, menurut sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal medis The Lancet, Jumat (4/9/2020).

Baca Juga: Rajin Bersihkan Layar Ponsel, Virus Corona Bisa Bertahan 28 Hari!

Dokter yang terlibat dalam uji coba melakukan dua studi fase 1/2 terbuka dan tidak acak di rumah sakit di Rusia pada 76 sukarelawan sehat berusia 18 hingga 60 tahun.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI