Suara.com - Salah satu jurnal medis terkemuka di dunia, Lancet, telah memperbarui kebijakan editorialnya menyusul kasus kesalahan penelitian tentang hydroxychloroquine sebagai pengobatan Covid-19.
Pada Mei, Lancet menerbitkan studi peer-review atau tinjauan sejawat tentang obat kontroversial hydroxychloroquine, menyimpulkan adanya risiko kematian tinggi dan mengalami lebih banyak komplikasi terkait jantung bagi pasien Covid-19 penerima obat tersebut.
Data ini dicatat oleh rumah sakit di seluruh dunia dalam database oleh perusahaan analitik data Amerika Serikat yang dikenal sebagai "Surgisphere". Temuan mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghentikan uji klinis obat anti-malaria tersebut.
Beberapa hari setelah makalah diterbitkan, sebuah kantor berita besar, Guardian Australia, mengungkap adanya masalah dalam data di Australia dalam penelitian tersebut.
Angka jumlah kematian akibat Covid-19 dan pasien di rumah sakit yang dikutip oleh penulis tidak sesuai dengan data resmi pemerintah dan departemen kesehatan.
![Ilustrasi Hydroxychloroquine. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/05/26/65979-hydroxychloroquine.jpg)
Bahkan, dokter senior yang terlibat dalam penelitian Covid-19 mengatakan mereka belum pernah mendengar tentang basis data Surgisphere.
Peneliti dari negara lain mengidentifikasi masalah serupa dengan data dari rumah sakit mereka, dan penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan keraguan apakah database yang digunakan dalam penelitian benar-benar ada.
Pendiri Sugisphere sekaligus penulis makalah tersebut adalah Sapan Desai. Pengadilan Illinois menunjukkan Desai pernah menghadapi dua tuntutan malapraktik medis pada 2019, dilansir Science Magazine. Menyusul peyelidikan ini, informasi mengenai Surgisphere telah dihapus dari internet.
Kemudian, WHO kembali melanjutkan studinya tentang hydroxychloroquine dan Lancet mencabut makalah Surgipshere dan berjanji untuk meninjau kebijakan publikasinya.
Baca Juga: Covid-19 Anak Lebih Ringan daripada Orang Dewasa, Studi Ungkap Alasannya
Kebijakan baru, yang terbit pada Kamis (17/9/2020), tiga bulan setelah studi ditarik pada Juni 2020 kemarin, mensyaratkan bahwa lebih dari satu penulis dalam penelitian tersebut harus langsung akses dan menferifikasi data yang dilaporkan.