Waspada, Kebanyakan Makan Junk Food Memicu Penuaan Sel

Kamis, 03 September 2020 | 12:09 WIB
Waspada, Kebanyakan Makan Junk Food Memicu Penuaan Sel
Ilustrasi makan junk food
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Orang yang sering makan makanan cepat saji atau junk food cenderung lebih cepat mengalami perubahan kromosom. Hal ini yang kemudian berkaitan dengan penuaan sel yang lebih cepat pula. 

Melansir dari South China Morning Post (SCMP), makan tiga porsi atau lebih junk food dan makanan cepat saji bisa melipatgandakan kemungkinan penguntaian DNA dan protein yang disebut telomer. Telomer yang memendek merupakan penanda penuaan biologis pada tingkat sel. 

Seiring bertambahnya usia, telomer memendek secara alami. Penurunan panjang telomer telah lama diakui sebagai penanda usia biologis.

Penelitian yang telah diterbitkan pada American Journal of Clinical Nutrition ini menunjukkan bahwa makanan merupakan faktor yang mendorong sel menua lebih cepat.

Namun para peneliti menegaskan bahwa meski korelasinya kuat, bagaimanapun hubungan kausal antara makan makanan yang diproses dan telomer yang berkurang tetap masih spekulatif.

Tim peneliti yang dipimpin oleh profesor Maria Bes-Rastrollo dan Amelia Marti dari Universitas Navarra di Spanyol menyelidiki dugaan hubungan antara konsumsi rutin junk food yang diproses dan menyusutnya telomer.

Makanan ultra-olahan diproduksi secara industri dan terdiri dari minyak, lemak, gula, pati, dan protein yang mengandung sedikit makanan utuh atau alami.

Makanan ini sering kali mengandung perasa buatan, pewarna, pengemulsi, pengawet, dan aditif lainnya yang meningkatkan umur simpan dan margin keuntungan.

Ilustrasi junk food. (shutterstock)
Ilustrasi junk food. (shutterstock)

Kandungan tersebut memperlihatkan bahwa makanan-makanan junk food cukup rendah gizi. 

Baca Juga: Kebanyakan Makan Junk Food, Risiko Depresi Mengintai

Dalam hal ini, Marti dan rekannya melihat data dari hampir 900 orang berusia 55 atau lebih yang memberikan sampel DNA pada tahun 2008 dan memberikan data rinci tentang kebiasaan makan mereka setiap dua tahun setelahnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI