Makanan RUTF Berbahan Tempe Bisa Atasi Balita dengan Gizi Buruk

M. Reza Sulaiman, Firsta Nodia

Jum'at, 14 Juni 2019 | 12:37 WIB
Makanan RUTF Berbahan Tempe Bisa Atasi Balita dengan Gizi Buruk
ilustrasi gizi buruk atau malnutrisi. [shutterstock]

Suara.com - Makanan RUTF Berbahan Tempe Bisa Atasi Balita dengan Gizi Buruk

Pengentasan gizi buruk masih jadi masalah kesehatan di Indonesia. Berbagai upaya lintas sektor dilakukan untuk menurunkan angka balita stunting dan gizi buruk.

Baru-baru ini, Profesor Riset Bidang Makanan dan Gizi, Dr. Astuti Lamid, MCN, menemukan fakta bahwa intervensi gizi dengan formula Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) dapat menurunkan kejadian balita kurus secara signifikan sebesar 36 persen dan balita sangat kurus sebesar 58 persen. Hal tersebut dibuktikan dari hasil penelitian tentang Pengembangan Formula Ready To Use Therapeutic Food (Rutf) Untuk Penanganan Balita Wasting di Puskesmas.

RUTF sendiri, kata Dr Astuti, merupakan makanan pemulihan untuk balita sangat kurus yang berupa makanan padat bentuk pasta diperkaya dengan zat gizi berupa vitamin dan mineral. RUTF umum digunakan dalam program perawatan, baik rawat inap atau rawat jalan, dan untuk balita yang datang ke pusat pelayanan kesehatan. Astuti mengatakan RUTF telah digunakan di Malawi, Afrika, India dan negara lainnya untuk menanggulangi balita sangat kurus.

"Keunggulan lain RUTF dibandingkan Formula-100 antara lain mengurangi efek pelarutan dengan air sehingga mengurangi risiko tercemar mikroorganisme; dua, zat gizi lengkap karena diperkaya dengan vitamin dan mineral; tiga, merupakan makanan instan yang tidak memerlukan preparasi, tahan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, dan dapat disimpan lama; empat, densitas energi lebih tinggi dari pada Formula-100,” ujarnya saat orasi ilmiah hasil penelitiannya, baru-baru ini.

Uji efikasi RUTF dilakukan untuk menilai efektivitas pemberian RUTF lokal dalam meningkatkan asupan gizi, status gizi, dan kesehatan balita sangat kurus. Satu paket RUTF lokal per 100 gram diujikan kepada balita sangat kurus di Kabupaten Bogor dan Subang. Setelah tiga bulan terjadi kenaikan status gizi yang signifikan.

Hasilnya efektivitas RUTF lebih baik dibandingkan Formula100 dalam meningkatkan asupan zat gizi balita sangat kurus. Pengujian dilakukan dengan pemberian RUTF dan Formula-100, hampir semua asupan zat gizi (Energi, Protein, Vitamin A, Besi dan Zinc) dari RUTF dan Formula-100 pada awalnya kurang dari 70 persen AKG. Namun pada akhir penelitian asupan zat gizi meningkat melebihi 100 persen AKG untuk zat gizi dari RUTF.

“Dilihat dari rerata asupan vitamin A dan besi, kelompok RUTF lebih tinggi asupannya secara signifikan dibandingkan dengan kelompok Formula-100. Dari aspek penyakit yang dialami balita sangat kurus, penyakit yang dominan diderita adalah ISPA. Penurunan kasus ISPA terbanyak pada kelompok RUTF,” kata Astuti.

Makanan RUTF berbahan Tempe kunci penanganan gizi buruk, (Shutterstock)
Makanan RUTF berbahan Tempe kunci penanganan gizi buruk. (Shutterstock)

Kepatuhan mengonsumsi formula makanan baik Formula-100 dan RUTF lokal hampir sama sekitar 50- 60 persen. Keunggulan RUTF lokal yang lain, kata Astuti, adalah cara pemberiannya praktis tidak perlu diseduh dengan air panas. Beberapa penelitian di negara Afrika menunjukkan RUTF berhasil memulihkan status gizi balita kurus maupun balita sangat kurus.

baca juga

"RUTF yang menggunakan bahan makanan lokal terbukti dapat diterima masyarakat, khususnya keluarga yang mempunyai balita kurus dan sangat kurus. RUTF lokal ini telah didaftarkan dengan pendaftaran paten Nomor P00201201133: Makanan Terapi Siap Santap (KcHijauNut dan Tempe-Nut) untuk penderita gizi buruk dan proses pembuatannya dengan tanggal pendaftaran 6-12-2012," jelasnya panjang lebar.

Bahan baku untuk RUTF lokal dipilih dari beberapa kacang-kacangan yakni kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai dan hasil fermentasi kacang kedelai, yaitu tempe. Kacang-kacangan merupakan sumber protein yang murah, mudah di dapat di daerah dan tepat digunakan sebagai makanan tambahan mengatasi kurang gizi yang terjadi pada balita.

Pembuatan RUTF lokal dimulai dari menyusun komposisi bahan produk dengan formulasi, mencampur bahan baku sampai pengepakan. Semua bahan pembuatan RUTF lokal tersedia di daerah kecuali vitamin mineral yang merupakan fortifikan yang dibeli dari luar negeri.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengaku berbahagia dengan pengembangan RUTF berbahan lokal dan telah diteliti secara komprehensif mulai dari formula, pengemasan, ujicoba dan model pemanfaatannya di puskesmas.

“Saya berharap temuan ini dapat dikembangkan dan diadopsi dalam program intervensi gizi balita wasting yang terintegrasi dengan PIS-PK,” kata Menkes.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sepanjang 2019, 80 Balita di Depok Terjangkit Gizi Buruk

Sepanjang 2019, 80 Balita di Depok Terjangkit Gizi Buruk

Health | Senin, 22 April 2019 | 11:26 WIB

Murah Meriah, Tempe Disebut Bisa Cegah Penyakit Osteoporosis

Murah Meriah, Tempe Disebut Bisa Cegah Penyakit Osteoporosis

Health | Jum'at, 05 April 2019 | 20:05 WIB

Tingkat Kelaparan dan Anak-Anak Kurang Gizi di Asia Pasifik Terus Memburuk

Tingkat Kelaparan dan Anak-Anak Kurang Gizi di Asia Pasifik Terus Memburuk

Lifestyle | Selasa, 02 April 2019 | 21:00 WIB

Terkini

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:06 WIB

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:00 WIB

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 18:38 WIB

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:06 WIB

Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Health | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:15 WIB

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

×