Suara.com - Psikolog klinis Lita Gading rupanya telah melaporkan orang tua TikToker cilik Sanaara Gelora Pratama, atau yang akrab disapa Arra, ke sejumlah lembaga perlindungan anak serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Lita Gading menganggap celotehan-celotehan Arra ketika tampil di televisi maupun di konten media sosial dapat berdampak buruk ke anak-anak kecil lain yang menonton.
Namun, Lita Gading tidak menyalahkan anak lima tahun itu. Ia justru menyoroti sikap kedua orang tuanya, Billi Sandi Pratama dan Mega Vallentina.
Sang psikolog menganggap celotehan kontroversial Arra merupakan hasil didikan orang tuanya. Itulah sebabnya ia meminta bantuan sejumlah lembaga untuk menegur mereka.
"Pada kesempatan kali ini, saya mau berterima kasih kepada Komnas Anak, LPAI, KPAI, Kak Seto, lalu Komisi Penyiaran Indonesia, yang mana saya sudah membuat laporan mengenai atau terkait kasusnya Arra," ujar Lita Gading dalam video yang diunggah pada Jumat (28/3/2025).

Lita Gading menambahkan, "Anak kecil usia lima tahun yang berceloteh, yang bercerita tidak sesuai usianya, yang di-creat orang tuanya."
Parahnya lagi, menurut Lita Gading, ucapan Arra yang dinilai menyinggung justru tetap dipublikasi oleh orang tuanya sehingga menjadi konsumsi publik.
"Di-upload tanpa melihat kajian-kajian sosial dan moralitas, serta hal-hal yang mungkin dianggap kurang normal atau kurang bijak dalam hal ini untuk anak seusia Arra," lanjutnya.
Lita Gading khawatir jika celotehan Arra ditiru oleh anak-anak lain, yang pada akhirnya akan berdampak pada adab mereka sebagai anak kecil.
Baca Juga: Sentilan Pedas Psikolog Lita Gading Soal Isu Ridwan Kamil Selingkuh: Mbok Cari yang Bener Dikit
"Hal ini akan memengaruhi perkembangan anak-anak di luar sana dan memberikan contoh yang kurang baik dan ini juga bukan sesuatu yang memang harus dibanggakan," paparnya lebih lanjut.
"Tidak semua anak talkactive dan pandai berbicara itu membawa pengaruh yang baik," tegurnya.
Selain itu, Lita Gading juga menilai konten orang tua Arra mengindikasikan adanya eksploitasi anak yang mengarah pada hal negatif. Lambat laun hal itu akan memengaruhi perkembangan Arra.
"Jadi, ini harus disetop, apalagi ini terindikasi adanya eksploitasi anak. Nah, ini dikhawatirkan takut memengaruhi perkembangan Arra selanjutnya. Karena Arra ini masih terlalu kecil," ujarnya.
Menyusul laporan tersebut, akun media sosial orang tua Arra mendadak tidak aktif lagi. Lita Gading menduga mereka sudah mendapatkan teguran berdasar laporannya.
"Sudah ada respons dari Arra, dari akunnya yang tidak aktif lagi. Mungkin itu adalah salah satu dari instansi tersebut sudah melakukan investigasi dan lain sebagainya," katanya menyambung.
Lita Gading pun berharap kasus yang terjadi pada keluarga Arra ini pun bisa menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang. Ia juga meminta kepada KPI untuk tidak mengizinkan stasiun televisi dan media sosial manapun untuk menyiarkan Arra.
"Mudah-mudahan ini pelajaran untuk kita semua bahwa dengan memberikan pola asuh yang baik anak adalah cerminan dari orang tua," nasihatnya mengakhiri videonya.
Sayangnya, tindakan Lita Gading tersebut dianggap sudah terlalu jauh. Sebab hal itu sudah menjadi ranah orang tua Arra sendiri.
"Ibu kok jadi ngurusin anak terlalu dalam? Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya seorang warganet.
Namun, ada pula warganet yang mendukung aksi Lita Gading itu. Mereka khawatir jika konten Arra ditonton oleh anak dan ditiru.
"Thank you dok sudah mewakilkan kekhawatiran saya sebagai ibu. Kalau satu keluarga Arra dianggap normal, bisa-bisa akan ada keluarga-keluarga Arra yang lain. Alhasil anak-anak yang belum tercemar jadi ikutan," imbuh warganet lain.
"Betul dok, orang tuanya nggak tau batasan. Sekiranya kontennya nggak sopan harusnya jangan di-upload ya. Semoga semua laporannya lancar," harap warganet lainnya.