Dalam budaya Palembang, tamu dianggap sebagai raja yang harus dihormati, bukan dijadikan bahan ejekan atau konten sensasional.
"Dalam budaya kami, tamu adalah raja yang harus dilayani dengan hormat, bukan dijadikan bahan ejekan," ujar Sultan dalam pernyataannya.
Kesultanan Palembang juga mengajukan beberapa tuntutan kepada Willie Salim. Mereka meminta agar Willie segera memberikan klarifikasi yang jujur serta meminta maaf secara langsung di hadapan Majelis Adat Kesultanan Palembang.
Selain itu, Sultan juga mendesak agar Willie mengikuti tradisi Tepung Tawar sebagai bentuk penebusan atas tindakan yang dianggap merendahkan masyarakat Palembang.

"Mendesak Willie Salim untuk mengikuti tradisi Tepung Tawar atas tindakan Cempalo Mulut sebagaimana adat Melayu Palembang yang tertuang dalam Undang-undang Simbur Cahayo," jelas Sultan.
Kontroversi ini bermula ketika Willie Salim membagikan video yang menunjukkan rendang seberat 200 kilogram yang ia masak hilang dalam waktu singkat karena diambil oleh masyarakat sekitar.
Insiden ini menimbulkan berbagai spekulasi dan opini negatif terhadap warga Palembang.
Sebagian publik menilai bahwa Willie telah menggiring opini buruk tentang masyarakat setempat, sementara yang lain mencurigai bahwa kejadian tersebut hanya settingan demi meningkatkan popularitas kontennya.
Ketegangan semakin meningkat ketika muncul anggapan bahwa Willie dan timnya tidak menyiapkan pengamanan yang cukup selama acara tersebut.
Baca Juga: Bobon Santoso Endus Kejanggalan Konten Rendang Willie Salim: Pergi ke Toilet, Bukan Mengawasi
Akibatnya, peristiwa "rendang hilang" ini dianggap sebagai kelalaian dalam perencanaan dan bukan semata-mata kesalahan masyarakat Palembang.