Sayangnya, kritikan-kritikan Gusti Purbaya justru menjadi bumerang. Pasalnya, banyak warganet yang justru menyerang dirinya sebagai bagian dari Keraton Surakarta.
"Nyesel gabung republik tapi dia menyejahterakan rakyat nggak becus. Uang dia loh hasil culturstelsel (kebijakan tanam paksa zaman Belanda). Saya bangga dengan mbah-mbah buyut saya yang meninggalkan kraton," kata seorang warganet.
"Biasa lah masih muda lagi fase rebel, padahal kalau nggak gabung republik, keluarga dia belum tentu hidup enak sampai sekarang," sindir warganet yang lain.
"Keluarga kratonnya sendiri aja masih konflik terus, bahkan masih 'diopeni' (diasuh) NKRI, sok mau jadi separatis," kata warganet lainnya.