"Artinya, tidak masalah jika saya ada di AKSI maupun di VISI, karena saya penyanyi juga pencipta lagu," terangnya.
Kemudian, faktor nomor tiga dirasa masuk akal. Sebab, VISI mendukung sistem penghimpunan royalti untuk pertunjukan publik secara kolektif. Sementara Anji cenderung memilih direct licensing atau pemberian royalti secara langsung ke pencipta lagu.
"Bahkan, AKSI sudah menyiapkan sebuah sistem yang disebut DDL (Digital Direct License)," tulisnya lebih lanjut.
Faktor nomor empat juga dinilai mungkin terjadi, meski definisi terkenal memiliki arti yang luas.
"Anji kurang terkenal. Alasan ini juga masuk akal, walaupun definisi terkenal itu bisa macam-macam. Bisa dari popularitas karya, jumlah follower media sosial atau apapun," pungkasnya.
Anji pun berharap VISI dan AKSI bisa saling membawa kebaikan di ekosistem industri musik Indonesia. Ia juga membuka tangannya bila para anggota VISI mengajaknya berdiskusi tentang apapun.