Review Film Conclave: Nyaris Sempurna Jika Tanpa Plot Twist yang Dipaksakan

Sumarni Suara.Com
Jum'at, 28 Februari 2025 | 08:00 WIB
Review Film Conclave: Nyaris Sempurna Jika Tanpa Plot Twist yang Dipaksakan
Film Conclave [Instagram]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Film "Conclave" akhirnya tayang juga di Indonesia. Sebagai penikmat film yang selalu mencari kisah-kisah yang menggugah pikiran, saya sangat antusias ketika menonton film ini.

Diadaptasi dari novel Robert Harris, "Conclave" menyajikan kisah yang menarik tentang proses pemilihan Paus baru setelah kematian mendadak sang pemimpin Gereja Katolik.

Film yang disutradarai oleh Edward Berger ini menyoroti intrik politik dan moral yang terjadi di balik dinding Vatikan, dengan Ralph Fiennes sebagai Kardinal Lawrence yang begitu mencuri perhatian.

Dari awal, "Conclave" berhasil menciptakan atmosfer misteri yang begitu kuat. Dengan latar Vatikan yang megah dan penuh rahasia, film ini membawa kita ke dalam dunia di mana kepercayaan, ambisi dan moralitas saling bertabrakan.

Baca Juga: Michelle Trachtenberg Meninggal Dunia, Ini Deretan Film yang Pernah Dibintanginya

Penonton diajak mengikuti perjalanan Lawrence yang menemukan serangkaian rahasia mengejutkan yang bisa mengguncang Gereja Katolik. Intrik demi intrik terjalin dengan cermat, membuat film ini begitu menegangkan dan mengundang rasa ingin tahu.

Akting, Sinematografi, dan Musik yang Memukau

Film Conclave
Film Conclave

Tidak bisa dipungkiri, daya tarik utama film ini adalah akting Ralph Fiennes yang luar biasa. Sejak debutnya di layar lebar, pemeran Lord Voldemort dalam "Harry Potter" series ini selalu mampu menghidupkan karakter dengan begitu meyakinkan.

Sebagai Kardinal Lawrence, Ralph Fiennes tampil dengan penuh ketenangan dan kedalaman emosional, menjadikannya sosok yang menarik untuk diikuti sepanjang cerita.

Tak hanya Fiennes, para aktor pendukung juga memberikan performa yang solid. Stanley Tucci sebagai Kardinal Bellini tampil elegan, sementara John Lithgow memberikan nuansa licik sebagai Kardinal Tremblay.

Baca Juga: Adaptasi Novel Religi, Setetes Embun Cinta Niyala Siap Tayang untuk Temani Lebaran

Selain akting, sinematografi film ini juga patut diacungi jempol. Vatikan ditampilkan begitu indah dan memanjakan mata dengan pencahayaan yang dramatis serta visual yang elegan.

Kontras warna merah dan putih yang mencolok menambah ketegangan dalam adegan-adegan krusial. Banyak sekali shot-shot menakjubkan yang membuat saya beberapa kali memekik, "Wow."

Skor musik yang penuh ketegangan berhasil memperkuat nuansa misteri dalam cerita. Suara-suara seperti napas para kardinal yang ditinggikan semakin menambah intensitas dalam adegan-adegan penting.

Plot Cerita Solid dengan Menyatukan Tema-tema Besar

Film Conclave
Film Conclave

"Conclave" berhasil mengangkat tema-tema universal seperti iman, ambisi, dan keraguan dengan sangat baik. Film ini tidak hanya membahas soal pemilihan Paus, tetapi juga pergulatan batin setiap karakter dalam menghadapi keyakinan dan kepentingan pribadi mereka.

Ambisi dalam film ini digambarkan sebagai pedang bermata dua, bisa membawa seseorang menuju puncak, atau malah menghancurkannya.

Film ini dengan cerdas mengeksplorasi bagaimana kekuasaan dan keyakinan sering kali bertentangan, menciptakan ketegangan yang membuat penonton terus terpaku.

Isu-isu sosial yang disentuh juga beragam, mulai dari rasisme hingga terorisme. Unsur politik dalam "Conclave" sangat kuat, tapi tidak membingungkan.

Sayang, Endingnya Tidak Sesuai Harapan

Film Conclave
Film Conclave

"Conclave" adalah film yang nyaris sempurna. Namun, film ini sedikit tergelincir di bagian akhir.

Tanpa memberikan terlalu banyak spoiler, film ini memilih untuk menambahkan satu plot twist terakhir yang terasa tidak perlu.

Alih-alih memberikan kesimpulan yang memuaskan, twist ini justru terasa seperti tambahan yang dipaksakan dan mengurangi dampak keseluruhan cerita.

Seharusnya, film ini bisa berakhir 10 menit lebih awal tanpa kehilangan bobot dramatisnya. Pada akhirnya, beberapa penonton mungkin akan menganggap twist tersebut sebagai inti dari keseluruhan film.

Bagi saya, "Conclave" tetap akan kuat tanpa plot twist yang terlalu jauh. Ending yang lebih sederhana dan kuat mungkin akan lebih sesuai dengan nada film yang telah dibangun dengan begitu rapi.

Sebuah Thriller yang Memikat, Tapi Tidak Sempurna

Film Conclave
Film Conclave

Secara keseluruhan, "Conclave" adalah film yang sangat layak ditonton, terutama bagi mereka yang menyukai drama politik, misteri, dan intrik.

Dengan akting yang luar biasa, sinematografi yang indah, serta musik yang menghanyutkan, film ini berhasil menghadirkan pengalaman yang intens dan menggugah.

Kelemahan utamanya ada pada akhir cerita yang terasa sangat dipaksakan. Meski begitu, "Conclave" tetap sebuah tontonan menarik yang memicu adrenalin, memberikan gambaran unik tentang dunia tertutup di dalam Vatikan.

Jika Anda bisa menerima plot twist yang tidak perlu dan terlalu jauh, maka film ini tetap akan memberikan pengalaman yang berharga.

Kontributor : Chusnul Chotimah

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI