Suara.com - Hotma Sitompul, kuasa hukum Julianto Eka Putra tegas menyebut kasus kekerasan seksual yang menyeret kliennya adalah rekayasa. Menurutnya, ada pesaing bisnis Julianto yang iri dengan kesuksesan sang motivator sekaligus pengusaha itu, hingga ingin menjatuhkannya.
"Saya pumya bukti. Rekayasa mereka, mereka (korban) di Bali, dibayarin di hotel, nginep di situ. Jadi mereka dari satu tahun lalu merencanakan ini, Julianto dan SPI-nya mau dibuat hancur," kata Hotma Sitompul di podcst Deddy Deddy Corbuzier yang diunggah Senin (25/7/2022).

Mendengar hal itu, Deddy Corbuzier seolah tak percaya. Ia kemudian bertanya-tanya alasan yang logis bagi para korban pelecehan rela dibayar untuk mengarang kasus ini.
"Rekayasa untuk membuat pelecehan seksual Julianto Eka ini?" tanya Deddy Corbuzier dengan nada tak percaya.
Hotma Sitompul membenarkan rasa rekayasa tersebut. Ia menyebut, para korban ini memang didanai oleh seseorang yang ingin menjatuhkan nama Julianto dan Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI).
![Deddy Corbuzier di acara jumpa pers Knight Kris di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2017). [suara.com/Puput Pandansari]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/11/15/32616-deddy-corbuzier.jpg)
"Iya (Ingin menjatuhkan), SPI-nya mau dibikin hancur juga," ucap Hotma Sitompul menegaskan.
Deddy Corbuzier yang mendengar penjelasan Hotma Sitopul tampak bingung. Ia pun salut akan keberanian Hotma bicara terkait dugaan rekayasa pelecehan seksual itu.
"Ini bang Hotman ngomong gini berani banget," imbuh Deddy Corbuzier.
"Loh kenapa enggak? Orang ada bukti, kenapa musti takut," sahut Hotma Sitompul.
Baca Juga: Hotma Sitompul Sebut Kasus Julianto Eka Direkayasa, Tantang Deddy Corbuzier Putar Video Buktinya
Hotma Sitompul juga menyebut dirinya tak berbohong. Pengacara 73 tahun ini mengatakan bantahan tersebut berdasarkan bukti yang ia pegang.