Suara.com - Jerman dengan budaya sepak bola yang kuat. Berbeda dengan negara lain di Eropa, ada perbedaan mendasar di kultur sepak bola Jerman, khususnya soal posisi suporter.
Di Jerman dikenal dengan istilah 50+1. Ini adalah sistem yang membuat klub-klub Bundesliga menghormati dan menghargai pemain ke-12, suporter.
Kebijakan 50+1 memberikan hak penuh kepada kelompok suporter untuk menentang kebijakan klub yang dirasa merugikan, dari hal prestasi hingga kepentingan lebih luas.
Regulasi ini merupakan skema kepemilikan saham klub, artinya kelompok suporter klub Bundesliga bisa menjadi pemegang saham. Regulasi ini juga mengikat klub di kasta kedua di Jerman.

Maka tak heran jika kultur suporter Bundeliga sedikit berbeda dengan kompetisi lain di Eropa. Kondisi ini tentu saja wajib dipahami oleh pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks.
Seperti diketahui, musim depan Kevin Diks akan memulai petualangan bersama Borussia Monchengladbach. Diks wajib membiasakan diri saat suporter Gladbach memberikan kritik pedas jika perfomance biasa-biasa saja.
Ultras Borussia Monchengladbach
Lazimnya di semua klub pasti ada kelompok garis keras yang memberikan dukungan penuh. Di Gladbach juga terdapat sejumlah kelompok ultras, salah satunya Sottocultura Ultras.
Kelompok ini berbasis di tribun utara Stadion Borussia-Park. Sottocultura Ultras menjadi salah satu kelompok ultras Gladbach yang cukup vokal menyuarakan kegelisahan mereka tentang klub dan pemain.
Baca Juga: Pelajaran Berharga Buat Kevin Diks yang Musim Depan Main di Bundesliga
Pada 2020 lalu misalnya, kelompok ini jadi perhatian publik Jerman saat Gladbach menjamu Hoffenheim. Mereka membentangkan spanduk yang bertuliskan makian kepada Dietmar Hopp, bos Hoffenheim.