Ia kemudian menghasut keluarga Lekatompessy untuk membuat patung tiruan Constantia yang berbahan sagu dan kayu.
Tak sadar tengah ditipu, Petrus pun memboyong patung replika Constantia itu ke Negeri Alang.
Dalam perjalanan, atas perintah Moyang Sakti Tawan, patung itu ditenggelamkan. Mengetahui itu, Petrus yang mengira patung itu adalah calon istrinya berupaya menyelamatkan dengan mencebur ke laut.
Tapi ia tak mampu menolongnya dan justru berubah menjadi buaya.
Bersamaan dengan itu, Constantia yang bersembunyi di atas solder di Malulang juga turut berubah menjadi buaya tembaga.
Sosok buaya tembaga itulah yang hingga kini ada di dalam mata rumah marga Lekatompessy.
Migrasi Tentara KNIL
Terlepas dari cerita rakyat itu, bagaimana keturunan marga Lekatompessy bisa beranak pinak di Belanda, menurut sejarahnya mereka ikut dalam rombongan 6000 tentara KNIL asal Maluku yang migrasi ke Belanda.
Mereka menyeberang ke Belanda menggunakan kapal laut setelah gerakan anti kolonial merebak di seluruh penjuru Indonesia pada kurun 1951-1953.
Baca Juga: Mees Hilgers: Saya Tiap Hari Bangun Subuh, Libur Latihan Ekstra
Dari peristiwa itulah kemudian lahirlah keturunan marga Lekatompessy termasuk diantaranya Tijjani Reijnders dan Eliano Reijnders.