Suara.com - Pengalaman pahit yang pernah dialami timnas Indonesia U-22 asuhan Indra Sjafri seusai menjuarai Piala AFF U-22 2019 tapi gagal bicara banyak di Kualifikasi Piala Asia U-22 2020 semestinya menjadi pelajaran berharga.
Saat itu, timnas Indonesia U-22 mengalami euforia yang terlalu berlebihan setelah berhasil merebut trofi Piala AFF U-22 2019 usai menggebuk Thailand dengan skor 2-1 di partai final.
Akibat prestasi ini, seluruh anggota timnas Indonesia U-22, mulai dari pelatih Indra Sjafri hingga anak asuhnya, sempat diarak ke Istana Negara hingga diguyur bonus milyaran rupiah.
Bonus yang diterima skuad Garuda Muda datang dari berbagai kalangan, mulai dari MNC Group, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), pengusaha Irwan Mussry, hingga Presiden Joko Widodo.
Saat itu, Presiden Jokowi memberikan bonus sebesar Rp200 juta, sedangkan Menpora mengucurkan dana sebesar Rp65 juta untuk timnas Indonesia U-22.
Adapun MNC Group memberikan hadiah satu unit motor kepada masing-masing pemain. Pengusaha Irwan Mussy menyodorkan hadiah jam tangan mahal untuk para pemain.
![Para pemain Timnas Indonesia U-22 merayakan gol penyerang Osvaldo Haay (kedua kanan) ke gawang Brunei Darussalam dalam pertandingan Grup B cabang olahraga sepakbola SEA Games 2019 di Stadion Binan Football, Laguna, Filipina, Selasa (3/12/2019) malam WIB. [ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/12/03/61772-timnas-indonesia-u-22.jpg)
Secara keseluruhan, anak asuh Indra Sjafri masing-masing menerima uang sebesar Rp265 juta plus satu unit jam tangan mahal dan satu unit sepeda motor.
Berbagai hadiah ini diharapkan bisa menjadi apresiasi sekaligus melecut semangat Garuda Muda untuk menatap gelaran selanjutnya, yakni Kualifikasi Piala Asia U-23 2020.
Namun, ternyata performa anak asuh Indra Sjafri justru sangat jauh dari harapan. Tergabung di Grup K Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, Garuda Muda hancur lebur dibabat musuh-musuhnya.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Timnas Indonesia U-19 di Kualifikasi Piala Asia U-20 2023
Mereka memang hanya bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam. Namun, nyatanya Indonesia gagal bersaing.