Kisah Lahirnya Liga di Crimea Akibat Konflik Ukraina-Rusia

Reky Kalumata Suara.Com
Jum'at, 04 Maret 2022 | 14:26 WIB
Kisah Lahirnya Liga di Crimea Akibat Konflik Ukraina-Rusia
Sebuah foto yang diambil pada 18 November 2017 menunjukkan para suporter TSK-Tavriya memberikan dukungan pada tim mereka pada pertandingan sepak bola Crimean Premier League antara TSK-Tavriya dan FC Sevastopol di Simferopol, Krimea. Paul GOGO/AFP
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Sebanyak tiga tim yakni Crimea TSK Simferopol, SKCF Sevastopol dan Zhemchuzhina Yalta meminta bergabung ke kasta ketiga liga Rusia.

Permintaan ini disetujui oleh otoritas Rusia. Hanya saja, Federasi Ukraina menentang permintaan itu dan meminta tiga tim asal Crimea ini kembali.

Penentangan Ukraina ini dibarengi dengan dorongan dari pihak Rusia yang ingin ketiga tim itu masuk dalam kasta sepak bola negeri Beruang Merah.

Perebutan mengenai tim-tim di Crimea ini lantas membuat UEFA selaku induk yang menaungi federasi sepak bola Rusia dan Ukraina dan FIFA sebagai induk sepak bola dunia pun turun tangan.

UEFA memutuskan Crimea menjadi teritori khusus yang berkaitan dengan sepak bola. Hal senada juga diucapkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino pada 2014 silam.

Setahun berselang, UEFA pun akhirnya mengambil jalan tengah dengan membangun Crimean Premier League atau liga sepak bola di teritori Crimea pada tahun 2015 dengan jumal

Crimean Premier League sendiri sejak dibentuk berisikan 20 tim dan kemudian mengerucut menjadi delapan tim saja dan hanya memiliki satu divisi saja tanpa adanya degradasi.

Malangnya, Crimean Premier League yang dibentuk UEFA ini tak mendapat pengakuan dari UEFA sama sekali. Sehingga gelarannya pun bak turnamen antar kampung saja.

Apalagi hal tersebut diperparah dengan kondisi setiap tim di mana tak semua tim memiliki stadion dan bahkan harus bertanding di sebuah lapangan untuk latihan.

Baca Juga: Tak Terima Keputusan FIFA dan UEFA, Rusia Ajukan Banding ke CAS

Bahkan, penontonnya pun terbilang minim, hanya berkisar 300 hingga 1000 orang saja. Benar-benar bak turnamen antar kampung.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI