Defisit Tiga Gol, Roma Pantang Kibarkan Bendera Putih

Syaiful Rachman Suara.Com
Selasa, 10 April 2018 | 09:19 WIB
Defisit Tiga Gol, Roma Pantang Kibarkan Bendera Putih
Pelatih AS Roma Eusebio Di Francesco hadiri jumpa pers jelang leg kedua perempat final Liga Champions kontra Barcelona di Stadio Olimpico [AFP]
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - AS Roma menolak untuk menyerah pada perempat final Liga Champions mereka melawan Barcelona, meski menghadapi defisit tiga gol pada leg kedua yang akan berlangsung pada Rabu (11/4/2018).

Pelatih Eusebio Di Francesco mengingatkan kemenangan 3-0 mereka atas Chelsea di fase grup, ketika ia menegaskan bahwa mereka masih mampu bangkit dari kekalahan 1-4 pekan lalu, meski Barcelona memiliki lebih banyak keunggulan.

Pelatih AS Roma Eusebio Di Francesco. Filippo MONTEFORTE / AFP

Namun ia mengatakan timnya memerlukan lebih banyak muslihat dan sinisme dibanding yang mereka tampilkan di beberapa pertandingan terakhir.

"Mengapa tidak percaya sampai akhir dan berharap kami dapat mencapai sesuatu yang belum pernah didapat sebelumnya? Kami tertinggal tiga gol, maka ini benar-benar tugas berat, namun kami memiliki tugas untuk diusahakan," kata Di Francesco kepada para pewarta.

"Kami melawan mesin... Kami harus bermain dengan hasrat, hati, dan keyakinan sampai peluit akhir berbunyi jika kami ingin melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan."

"Terkadang, kami kurang terampil dan tipu daya yang Anda perlukan untuk mendapatkan hasil-hasil yang lebih baik," tambahnya. "Saya selalu ingin melihat kesinisan dalam jumlah yang tepat dari tim."

Sebelumnya, Roma mencapai perempat final Liga Champions sebanyak tiga kali, dan kalah di dua kesempatan terakhir. Dua kekalahan tersebut datang dari tim Inggris, Manchester United pada 2007 dan 2008.

Pemain depan Barcelona Luis Suarez (tengah) merayakan golnya ke gawang AS Roma. Josep LAGO / AFP

Baca Juga: Kids Zaman Now Tak Tertarik Gaya Komunikasi Kuno Prabowo

Satu-satunya kesempatan mereka mampu menembusnya adalah pada Liga Champions format lama pada 1984, ketika mereka mengalahkan Dynamo Berlin dan kemudian kalah dari Liverpool di final.

"Kami sering berbicara mengenai mentalitas kemenangan, namun kami tidak meraih banyak kemenangan di klub ini, maka secara sejarah kami belum benar-benar memilikinya," kata Di Francesco.

"Anda menciptakan mentalitas kemenangan melalui rasa kepemilikan, identitas, pekerjaan konsisten, dan tetap dekat dengan lingkungan Anda."

"Kekuatan Barca telah terbangun selama bertahun-tahun, hal itu terjadi dalam semalam. Kekuatan Barcelona datang dari mentalitas mereka, yang dimulai dari akademi pemain muda... Mereka memainkan pertandingan-pertandingan dengan sangat baik, menggunakan bola dengan baik, dan hanya melakukan sedikit kesalahan."

Gawang AS Roma kawalan Alisson Becker dibobol Barcelona (AFP/LLUIS GENE)

Barcelona mampu membalikkan defisit empat gol pada fase 16 besar melawan Paris St Germain (PSG) musim lalu, dan pelatih Ernesto Valverde tidak menganggap enteng lawannya.

"Akan menjadi kesalahan untuk berpikir bahwa kami telah berada di semifinal," tuturnya.

"Memang benar bahwa kami mendapatkan hasil yang bagus pada leg pertama namun tidak lebih dari itu. Kami harus bermain sebagaimana skornya 0-0 karena Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi -- pengusiran pemain, atau hal lain."

"Kami harus keluar untuk menang, tidak lebih dari itu." (Antara)

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI