Kabar Baik Buat Investor, Porsi Dividen BBNI Direncanakan Bertambah!

M Nurhadi Suara.Com
Rabu, 26 Maret 2025 | 10:39 WIB
Kabar Baik Buat Investor, Porsi Dividen BBNI Direncanakan Bertambah!
Gedung Bank BNI. (Dok: BNI)
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (26/3/2025) yang menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan.

Sebagai salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia dengan aset mencapai Rp1.250 triliun, agenda rapat tahunan ini dinilai akan menentukan arah strategis perusahaan di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak.

Kinerja keuangan BNI sepanjang tahun 2024 menunjukkan ketahanan yang baik dengan laba bersih mencapai Rp21,5 triliun, tumbuh 2,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 8,5% dan pertumbuhan fee based income sebesar 12,3%. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam laporan tahunannya menyatakan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari transformasi digital yang konsisten dijalankan perusahaan.

Transformasi digital BNI memang menjadi salah satu pengungkit utama kinerja. Peluncuran aplikasi mobile banking 'wondr by BNI' untuk segmen ritel dan 'BNIdirect' untuk korporasi berhasil meningkatkan jumlah nasabah aktif digital sebesar 28% menjadi 15,2 juta pengguna. Dampaknya terlihat pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp805,5 triliun di akhir 2024, dengan komposisi dana murah (CASA) mencapai 65% dari total DPK.

Dalam RUPST kali ini, salah satu agenda utama adalah pembahasan rencana peningkatan rasio pembagian dividen dari 50% menjadi 55-60% dari laba bersih. Jika proposal ini disetujui, estimasi dividen per saham akan mencapai Rp345,28 dengan total pembagian dividen sebesar Rp12,87 triliun. Kebijakan ini menunjukkan komitmen BNI untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham sambil tetap mempertahankan kecukupan modal dengan CAR sebesar 21,4%.

Selain dividen, manajemen juga mengajukan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp1,5 triliun atau sekitar 10% dari modal disetor. Langkah strategis ini bertujuan untuk menstabilkan harga saham di pasar sekunder sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis ke depan. Analis pasar memprediksi kebijakan buyback ini akan memberikan sentimen positif bagi pergerakan saham BNI di bursa.

Agenda lain yang tak kalah penting adalah penetapan kebijakan remunerasi direksi dan dewan komisaris untuk periode 2025-2027. Rapat akan menentukan struktur kompensasi yang mencakup gaji pokok, tunjangan kinerja, serta berbagai insentif jangka panjang. Selain itu, RUPST juga akan memilih kantor akuntan publik yang akan mengaudit laporan keuangan tahun 2025.

Momen penting lainnya dalam RUPST kali ini adalah proses suksesi kepemimpinan. Royke Tumilaar yang telah memimpin BNI sejak September 2020 akan mengakhiri masa jabatannya. Berbagai spekulasi muncul mengenai penggantinya, dengan nama Putrama Wahju Setyawan yang kini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. Putrama memiliki pengalaman panjang di industri perbankan, termasuk pernah memimpin PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) sebelum kembali ke BNI pada 2022.

Tidak hanya Royke, tiga direktur lainnya yaitu Novita Widya Anggraini (Direktur Keuangan), David Pirzada, dan Ronny Venir juga diprediksi akan mengakhiri masa tugas mereka. Pergantian jajaran direksi ini dinilai akan membawa angin segar bagi strategi bisnis BNI ke depan, terutama dalam menghadapi tantangan digitalisasi perbankan dan persaingan yang semakin ketat.

Baca Juga: Kebijakan Buyback Saham Tanpa RUPS: Dongkrak Kepercayaan Investor, Efek Jangka Pendek?

Para analis memprediksi RUPST BNI tahun ini akan menjadi tonggak penting dalam menentukan arah strategis perusahaan. Beberapa isu krusial yang perlu mendapat perhatian antara lain strategi penguatan modal inti, ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor produktif, serta penguatan layanan digital untuk bersaing dengan fintech dan bank digital.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI