Lebih dari itu, beras adalah bagian tak terpisahkan dari budaya, tradisi, dan bahkan perekonomian banyak negara.
Dari sawah yang menghijau hingga meja makan, beras melalui perjalanan panjang dan memiliki nilai yang jauh lebih dalam.
Beras berasal dari tanaman padi (Oryza sativa) yang dibudidayakan dengan berbagai metode, mulai dari sistem tadah hujan tradisional hingga irigasi modern.
Proses penanaman padi membutuhkan ketelitian dan perawatan intensif, mencerminkan kearifan lokal dan hubungan erat antara manusia dan alam.
Panen padi menjadi momen penting, dirayakan dengan berbagai ritual dan festival sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi. Keragaman beras sangatlah kaya.
Ada beras putih yang paling umum dikonsumsi, beras merah dengan kandungan serat lebih tinggi, beras hitam yang kaya antioksidan, dan beras ketan yang pulen.
Masing-masing jenis beras memiliki karakteristik unik yang memengaruhi rasa, tekstur, dan nilai gizinya. Beras juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti tepung beras, bihun, dan aneka kue tradisional.
Di balik kelezatannya, beras juga menyimpan sejumlah manfaat kesehatan. Karbohidrat kompleks dalam beras memberikan energi yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas.
Beras merah dan beras hitam, dengan kandungan serat dan antioksidan yang tinggi, membantu menjaga kesehatan pencernaan, mengendalikan kadar gula darah, dan melindungi tubuh dari radikal bebas.
Baca Juga: Beredar Isu Beras SPHP Takaran Dikurangi, Wadirut Bulog Buka Suara
Namun, produksi dan konsumsi beras juga menghadapi tantangan. Perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan penggunaan pupuk kimia berlebihan mengancam keberlanjutan pertanian padi.