Suara.com - Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, GIZ Indonesia dan Unilever Indonesia, berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, meluncurkan proyek Scaling Up Local Enterprise on Waste Management in Indonesia (SULE-WM). Proyek ini dilaksanakan bersama mitra implementasi Ecoxyztem dan Greeneration Foundation, dengan menggandeng lima perusahaan pengelolaan sampah lokal yang tersebar di lima daerah di Indonesia, yaitu Medan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, Bali, Surabaya, serta Jakarta.
Proyek SULE-WM bertujuan untuk mengembangkan skala usaha pengelolaan sampah lokal guna menciptakan lebih banyak peluang kerja ramah lingkungan. Hal ini dilakukan melalui inovasi, peningkatan kapasitas, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Selain mendorong pertumbuhan perusahaan pengelolaan sampah, proyek ini juga menargetkan edukasi bagi lebih dari 20.000 orang agar mereka dapat berperan aktif sebagai talenta masa depan dan ekosistem pendukung dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang komprehensif.
Proyek yang akan berlangsung selama 21 bulan ini memberikan dukungan berupa pelatihan, mentoring, serta pendanaan implementasi sebesar total Rp 1 miliar kepada UMKM yang mengembangkan solusi inovatif dalam daur ulang dan pengelolaan sampah.
Pada kesempatan tersebut, Maya Tamimi, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia, menegaskan fokus perusahaan dalam mendukung keberlanjutan melalui pengelolaan plastik. Unilever memiliki fokus kuat pada empat isu keberlanjutan, yaitu iklim, alam, plastik, dan mata pencaharian.
"Pada pilar plastik, Unilever memiliki fokus yang kuat, bahwa paling lambat di tahun 2025 Perusahaan akan mengurangi penggunaan plastik baru, mempercepat penggunaan plastik daur ulang, meningkatkan keterdaurulangan/recyclability pada kemasan, serta mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak daripada yang digunakan untuk menjual produk,” katanya.
Ia menambahkan, Unilever Indonesia percaya bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk UMKM, berperan penting dalam pengelolaan sampah, terutama plastik. Proyek SULE-WM menjadi bagian dari upaya kami membangun ekosistem pengelolaan sampah yang inklusif, di mana inovasi lokal dapat berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Kami optimis bahwa dengan kerja sama yang erat, kita dapat menciptakan perubahan positif dalam skala lebih luas untuk lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan," sambungnya.
Sebelum Proyek SULE-WM diluncurkan, Unilever Indonesia telah melakukan berbagai inisiatif dari hulu ke hilir selama bertahun-tahun, dari inovasi desain sampai upaya pengumpulan dan pemrosesan sampah kemasan plastik.
Unilever Indonesia juga telah mengumpulkan dan memproses lebih banyak plastik daripada yang digunakan untuk menjual produknya. Pada tahun 2024 sendiri, perusahaan berhasil mengumpulkan dan memproses 90,000 ton dari 2 skema utama, yaitu 40,000 ton tercatat dari upaya dengan membantu jaringan daur ulang di Bank Sampah, TPS3R dan pelapak serta 50,000 ton tercatat dari upaya waste to energy, Refuse Derived Fuel (RDF) hasil kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Baca Juga: Lawan Fast Fashion untuk Cegah Lingkungan Rusak, Beli Barang Harus Mindful!
Apresiasi Kementerian BPLH