Hingga kemudian mendirikan Bukalapak dengan role model dari Amazon dan eBay. Namun, dengan konsep lebih Indonesia, yakni mewadahi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kampanye mengajak pengusaha kecil dan menengah ditingkatkan. Bukalapak lalu mendapat traffic yang cukup signifikan. Pada 2011, proyek ini resmi menjadi perseroan terbatas (PT).
Awal berdirinya bukalapak tidak berjalan mudah. Kesulitan pendanaan sempat menerpa di tahun-tahun pertama. Akhirnya kesulitan tersebut mulai terjawab setelah Batavia Incubator tertarik untuk menanamkan modal. Perusahaan yang memfokuskan diri untuk menginkubasi layanan internet/mobile di Indonesia itu menjadi investor pertama Bukalapak.
Tahun 2012, Bukalapak menerima tambahan investasi dari GREE Ventures, asal Jepang. Dua tahun kemudian perusahaan ini mendapat investor yang merupakan bagian pendagaan Seri A, yakni Aucfan, IREP 500 Startup, dan GREE Ventures.
Februari 2015, Bukalapak mengumumkan pendanaan seri B dari PT Kreatif Media Karya (KMK Online), yang merupakan anak usaha EMTEK. Pada 2017, menyandang status perusahaan unicorn.
Pada 2020, Achmad Zaky yang saat itu menjabat sebagai CEO memilih untuk mundur dan digantikan dengan Rachmat Kaimuddin. Di tahun yang sama, Nugroho Herucahyono yang menjabat sebagai Founder dan Chief Technology Officer Bukalapak ketika itu juga memilih mundur.
Namun di Juni 2020, Bukalapak mengumumkan Fajrin Rasyid juga mundur dan pindah ke Telkom. Di perusahaan milik negara itu, Fajrin menduduki jabatan penting sebagai direktur.
Sejak itu, Bukalapak tidak ada lagi campur tangan dari tiga pendirinya.
Baca Juga: Nasib Bukalapak, Dari Platform Apa Aja Ada Kini Hanya Jualan Pulsa