Suara.com - Indonesia sebagai negara archipelago terbesar di dunia memiliki sederet keuntungan dalam mewujudkan Net Zero Emission (NZE) 2060. Antara lain cadangan gas terbesar kedua di Asia Pasifik.
Kemudian potensi penyimpanan karbon dioksida atau CO2 terbesar ketiga di wilayah Asia Tenggara untuk hidrogen biru, serta potensi panas bumi terbesar kedua di dunia untuk hidrogen hijau dan lebih dari 200 GW potensi kapasitas tenaga surya.
Dikutip dari kantor berita Antara, dalam sebuah diskusi tentang energi baru terbarukan, Anders Maltesen, President Energy Industries Asia ABB menyatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi pusat energi berkelanjutan di kancah global.
Indonesia secara geografis terletak dekat dengan negara-negara yang memiliki permintaan tinggi untuk hidrogen bersih. Seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, yang bersama-sama mewakili pasar hidrogen sebesar 4 juta ton per tahun.
Kebutuhan untuk memangkas emisi, diikuti kebutuhan untuk memenuhi permintaan energi, membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan multidisiplin.
Untuk memastikan transformasi yang sukses, Indonesia terus berupaya mengurangi ketergantungan sektor tenaga listrik pada bahan bakar fosil, mengadopsi sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sambil beralih ke sistem energi bebas karbon.
Dalam kerangka regulasi, pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan dan insentif fiskal untuk mendorong pertumbuhan hijau, dengan fokus pada mobilitas listrik, pasar karbon, dan energi terbarukan.
Selain itu, telah dibentuk Just Energy Transition Partnership (JETP), sebuah kemitraan global yang menyepakati mobilisasi pembiayaan publik dan swasta sebesar 20 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk mendekarbonisasi sektor energi Indonesia sambil menjaga batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius tetap tercapai.
Di bawah JETP, Indonesia menetapkan target mengurangi emisi karbon menjadi 250 juta metrik ton per tahun untuk sektor tenaga listrik on-grid pada 2030. Sambil meningkatkan pangsa pembangkit listrik dari energi terbarukan menjadi 44 persen.
Baca Juga: Punya 11 Anak Terjamin Secara Ekonomi, Elon Musk Pegang Ideologi Ini
Jika dilakukan dengan benar, hasil yang menjanjikan dari kebijakan transisi energi ini. Didukung kepemimpinan politik dan transformasi budaya yang masif, akan memungkinkan kemajuan ini terjadi.