Pakar: Pasar Big Data di Indonesia Masih Terus Berkembang

Iwan Supriyatna Suara.Com
Kamis, 07 Maret 2024 | 10:18 WIB
Pakar: Pasar Big Data di Indonesia Masih Terus Berkembang
Pasar layanan mahadata (big data) di tanah air masih terus berkembang karena belum optimal diserap pasar.
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Sehingga, BigBox mampu memberikan pencerahan, memberikan rekomendasi, menyolusikan tantangan, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi perusahaan dan instansi lewat big data.

Rinaldi H. Leksana, Cofounder Enclave Kolaborasi Global, mengatakan, banyak perusahaan di Indonesia memiliki visi mengelola big data. Tetapi sering kali tidak terprogram dengan baik karena belum adanya ekspektasi output yang jelas.

Karena itu, selain harus disertai komitmen dan output yang tepat, perusahaan juga lebih baik didampingi pihak yang ahli big data. Misalnya menggunakan layanan big data dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) yakni BigBox.

"Pendampingan expert akan menjadi pondasi yang kuat dalam implementasi big data. Tanpa itu, maka pengembangannya akan never ending project dan tidak jarang menjadi investasi sia-sia," katanya.

Yudhistira Nugraha, Direktur Jakarta Smart City 2019-2023, mengatakan, peningkatan kapasitas analitik data untuk memproses, menganalisa, dan menginterpretasikan big data secara efektif harus ditingkatkan dengan pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan Machine Learning.

Pemanfaatan hasil analisa big data untuk pengambilan keputusan (data-driven policy), kata dia, membutuhkan kolaborasi dan keterbukaan data, infrastruktur, dan literasi digital guna memastikan big data dapat dimanfaatkan maksimal.

"Misalnya penggunaan big data di instansi pemerintah daerah, harus manfaatkannya sampai level merespons kebutuhan dan ekspektasi masyarakat urban. Seperti ketersediaan transportasi umum dan informasi lalu lintas yang lebih efisien. Selain itu juga layanan kesehatan terkait ketersediaan dokter dan waktu tunggu terutama dalam kondisi darurat serta manajemen bencana untuk merespons situasi darurat," pungkas Doktor Keamanan Informasi Oxford University, Inggris, ini.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI