Transisi Energi Dorong Peningkatan Daya Saing Produk Indonesia

Iwan Supriyatna Suara.Com
Senin, 15 Januari 2024 | 13:50 WIB
Transisi Energi Dorong Peningkatan Daya Saing Produk Indonesia
Diskusi bertema “Transisi Energi di Indonesia: Perspektif dan Peluang Bagi Pengelolaan Sektor ESDM yang Berkadilan”.
Follow Suara.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Suara.com - Transisi energi yang dilakukan di Indonesia selain bertujuan memenuhi tuntutan masyarakat demi lingkungan lebih baik juga bertujuan untuk menjaga daya saing Indonesia di mata dunia.

Dadan Kusdiana, Sekretaris Jendral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan tidak lama lagi era perdagangan global akan berubah dengan memasukkan syarat yang cukup detail terkait produk yang dihasilkan.

"Saya dengar, Eropa itu akan mulai menerapkan carbon border tax-nya dua tahun lagi. Kan tidak lama, 2026 itu tidak lama untuk sebuah industri memastikan bahwa nanti akan bisa masuk ke sana," kata Dadan saat memberikan sambutan pada Energy and Mining Editor Society (E2S) Award 2023 dan diskusi bertema “Transisi Energi di Indonesia: Perspektif dan Peluang Bagi Pengelolaan Sektor ESDM yang Berkadilan” ditulis Senin (15/1/2024).

Dadan mengatakan program transisi energi juga sejalan dan medukung program pemerintah yang lain.

"Misalkan untuk hilirisasi yang persiden terus dorong. Perusahaan minerba mencoba untuk melalukan itu," ungkap dia.

Mendorong hilirisasi di era ini sangat penting kaitannya dengan daya saing dari produk yang dihasilkan. Jika perusahaan di Indonesia tidak mampu menunjukkan produknya dihasilkan dengan cara-cara hijau (green), akan dikenalan pajak karbon yang tentu membuat harga produk semakin tinggi.

"Jadi ke depan produk akan ditanya proses energi seperti apa. Nanti ada batas maksimal sekian bisa dilewati tapi hasilkan pajak karbon sehingga barang tambah biayanya, harganya tambah. Misalkan ada barang sama keluar dari Vietnam dia sudah terapkan prinsip-prinsip ESG dan green sudah sesuai jadi tidak ditambah biayanya dengan barangnya sama. Jadi sudah tahu yang mana yang akan dipilih, ini kaitannya tadi dengan daya saing," jelas Dadan.

Transisi energi juga mendukung TKDN. Pada awalnya impor semua untuk membangin. Namun itu semata untuk menciptakan market.

“Ketika market sudah terbentuk baru industri bisa dibangun,” jelas dia.

Baca Juga: PLN Indonesia Power Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi di COP28

Selain itu transisi energi juga mendorong pemerataan pembangunan. Dengan EBT bisa dibangun industri berbasis green. Dadan menjelaskan di kawasan Papua misalnya yang memiliki potensi hidro terbesar tapi hingga kini belum digarap. Ini padahal bisa jadi peluang untuk bangun industri rendah emisi.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI