Suara.com - Pemerintah mendorong startup-startup bisa membantu industri kecil dan menengah (IKM) bertansformasi menggunakan teknologi. Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian sejak 2018 menggelar program Startup4Industry.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Dirjen IKMA) Reni Yanita mengungkapkan, kekinian sudah 2.037 startup yang mendaftar program Startup4Industry dan 1.115 diantaranya mengikuti program kompetisi implementasi teknologi Startup4Industry. Kompetisi Startup4Industry merupakan sebuah kompetisi yang diikuti oleh startup Indonesia untuk menunjukan teknologi yang paling berdampak positif bagi IKM.
Menurut dia, program-program pembinaan tech startup yang konsisten dilakukan oleh Kemenperin diharapkan bisa membuka jalan bagi startup Indonesia untuk melebarkan pasar di sektor manufaktur dan juga mendorong percepatan transformasi digital industri Indonesia.
"Begitu juga Startup For Industry merupakan program yang berusaha mendorong generasi muda untuk menjadikan teknologi sebagai penyedia solusi bagi Industri. Startup For Industry berperan sebagai ecosystem builder untuk menghubungkan startup sebagai penyedia teknologi dengan industri, masyarakat, investor, akselerator/inkubator dan juga global market," ujarnya yang dikutip, Kamis (28/12/2023).
PT Trimitra Nusantara Sakti (Trinusa) yang menyabet Juara 2 kompetisi Startup4Industry 2023, memberikan solusi bagi industri manufaktur guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi pada mesin-mesin yang digunakan melalui sistem pencatatan yang cerdas. Yoanes Fredy Sakti, Founder dan CEO Trinusa, adalah sosok dibalik terciptanya perangkat lunak atau software yang bernama Smart Module System.
Fredy mengatakan idenya tercetus ketika dirinya bekerja sebagai desainer di sebuah pabrik manufaktur bidang mold and dies, yang memproduksi lampu-lampu untuk sepeda motor pada 2007 silam. Kala itu, Fredy melihat pencatatan yang dilakukan masih menggunakan metode manual atau tulisan tangan. Tahun 2016, saat dirinya bekerja di manufaktur asal Jerman untuk membuatkan mesin filling dan packaging untuk perusahaan Food and Beverage (F&B) di Indonesia, Fredy semakin terpacu membuat sistem digital yang memudahkan pelaku usaha.
"Di situ saya mendapat perspektif baru soal digitalisasi. Namun, pada 2018 saya memutuskan keluar karena gelisah ideologi saya belum bisa tertuang dan membangun Trinusa dan mengikuti program Startup4Industry tahun ini. Dimana implementasi yang kami lakukan kepada mitra kami yaitu membantu pencatatan realtime mesinnya. Sebelumnya, kendala yang dialami pelaku usaha terletak pada kurangnya efisiensi perusahaan. Dimana Smart Module System ini menangkap bahwa mesinnya ternyata 60% hanya standby dan tidak bekerja," kata dia.
Fredy mengungkapkan setelah memakai perangkat lunaknya, mitranya bisa mengetahui semua informasi dari mesin seperti sudah berapa lama mesin standby atau sudah berapa lama bekerja, berapa produk yang telah selesai hingga berapa banyak biaya konsumsi listrik yang telah terpakai secara realtime. Sistem ini pun bisa membantu mesin-mesin import yang dapat disesuaikan dengan sistem pembayaran di Indonesia sehingga keuangan pun bisa tercatat dengan baik pula.
"Software ini mencatat semua informasi dari mesin tersebut. Sehingga pelaku usaha bisa membuat kinerja mesin lebih produktif dan mengoptimalkan efisiensi biaya dan efektivitas produksi yang akhirnya income akan meningkat hingga 10-15%," imbuh dia.
Baca Juga: Sepanjang Tahun 2023, Kemenperin Cetak 38 Ribu Tenaga Kerja
Bekerjasama dengan salah satu brand mesin roaster kopi, Fredy menanamkan Smart Module System di mesin tersebut. Mesin pun dapat mencatat setiap aktivitas produksi kopi untuk menghasilkan kinerja yang efisien, efektif dan dapat disesuaikan dengan pembayaran QRIS di Indonesia. Bahkan, seorang pembuat kopi atau barista pun dapat menginput sebuah resep ke dalam mesin roaster tersebut sehingga selanjutnya mesin dapat memproduksi kopi yang sesuai racikan sang barista secara otomatis.